kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Dianggap Hama, Unismuh Ubah Selada Laut Bantaeng jadi Keripik dan Bubuk Nori

Dianggap Hama, Unismuh Ubah Selada Laut Bantaeng jadi Keripik dan Bubuk Nori
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) (Dok: Ist).

KabarMakassar.com — Selada laut yang selama ini dianggap gulma dan pengganggu aktivitas budidaya di pesisir Kabupaten Bantaeng mulai dilirik sebagai sumber ekonomi baru. Tanaman laut bernama ilmiah Ulva lactuca itu kini diolah menjadi keripik hingga bubuk nori bernilai jual.

Pemanfaatan gulma laut tersebut dikembangkan bersama Kelompok Nelayan Cahaya Laut di Desa Bonto Jai melalui pendampingan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh).

Ketua Tim PKM Unismuh Makassar, Siti Walida Mustamin, mengatakan keberadaan Ulva lactuca selama ini belum dimanfaatkan secara ekonomi oleh masyarakat pesisir. Selada laut tersebut bahkan lebih banyak dipandang sebagai hama karena dinilai mengganggu kegiatan budidaya.

“Padahal, Ulva lactuca memiliki potensi yang sangat besar untuk diolah menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah,” kata Siti Walida dalam kegiatan, Minggu (12/07).

Menurut dia, anggapan bahwa selada laut tidak memiliki nilai ekonomi menjadi salah satu persoalan yang ingin diubah. Masyarakat didorong melihat potensi sumber daya yang tersedia di sekitar kawasan pesisir sebagai peluang usaha.

“Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan pengetahuan, keterampilan, dan pendampingan kepada masyarakat agar mampu mengubah sumber daya yang selama ini dianggap tidak bernilai menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” ujarnya.

Selada laut tersebut kemudian didiversifikasi menjadi dua produk pangan, yakni keripik dan bubuk nori. Pengolahan dilakukan sebagai upaya meningkatkan nilai tambah dibandingkan membiarkan Ulva lactuca menjadi gulma di kawasan pesisir.

Tim PKM memberikan pelatihan langsung mengenai teknik pengolahan selada laut hingga menjadi produk yang dapat dipasarkan. Keripik selada laut dan bubuk nori juga didorong sebagai alternatif produk pangan berbasis sumber daya lokal.

Program itu menyasar Kelompok Nelayan Cahaya Laut sebagai mitra. Sebanyak 10 anggota kelompok, baik laki-laki maupun perempuan, mengikuti praktik pengolahan Ulva lactuca.

Siti Walida menilai pengembangan produk olahan selada laut berpeluang membuka sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat pesisir Bonto Jai. Terlebih, bahan baku yang digunakan berasal dari potensi lokal yang sebelumnya belum bernilai jual.

Namun, pendampingan tidak berhenti pada proses produksi. Persoalan pemasaran juga menjadi perhatian karena produk olahan dinilai membutuhkan jangkauan pasar yang lebih luas agar dapat berkembang menjadi usaha masyarakat.

Kelompok nelayan dibekali strategi pemasaran digital dengan memanfaatkan media sosial dan toko digital. Mereka juga mendapat materi pembuatan konten promosi untuk memperkenalkan keripik selada laut dan bubuk nori kepada konsumen.

Pemasaran tersebut diarahkan menggunakan prinsip ekonomi syariah dengan menekankan kejujuran dan transparansi dalam aktivitas penjualan.

Integrasi antara pengolahan produk dan pemasaran digital diharapkan membuat selada laut Bonto Jai tidak sekadar berhenti sebagai produk hasil pelatihan. Masyarakat didorong mampu mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

Tim PKM menargetkan Ulva lactuca dapat berkembang menjadi salah satu produk berbasis potensi lokal Desa Bonto Jai. Pengolahan selada laut juga diharapkan memunculkan peluang usaha baru di tengah masyarakat pesisir.

“Kami ingin masyarakat mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil laut dan mengembangkan usaha berbasis potensi lokal secara mandiri,” kata Siti Walida.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai melalui Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.

Tim pelaksana diketuai Siti Walida Mustamin dengan anggota Nur Insana Salam dan Mega Mustika. Mereka memfokuskan pendampingan pada dua persoalan utama, yakni peningkatan kemampuan produksi dan perluasan pemasaran.

Melalui pengolahan keripik dan bubuk nori, selada laut yang sebelumnya dianggap pengganggu kini dibidik menjadi komoditas bernilai ekonomi sekaligus sumber usaha baru bagi warga pesisir Bantaeng.

error: Content is protected !!