KabarMakassar.com — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mulai menyelaraskan strategi pembangunan sektor kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif untuk tahun 2026 menyusul tren peningkatan kunjungan wisatawan dalam beberapa tahun terakhir.
Kenaikan jumlah wisatawan dinilai memberi dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, terutama pada sektor jasa dan usaha berbasis masyarakat.
Pemerintah daerah menilai penguatan sektor ini penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Sinkronisasi program lintas pemerintah menjadi langkah utama untuk memastikan arah pembangunan berjalan selaras.
Data pemerintah menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulawesi Selatan pada 2025 mencapai 14.685 kunjungan atau meningkat 7,21 persen dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan meningkatnya minat wisatawan asing terhadap potensi wisata daerah, termasuk kekayaan budaya lokal dan pengalaman wisata berbasis komunitas.
Selain wisatawan asing, pergerakan wisatawan nusantara juga mencatat peningkatan signifikan. Sepanjang 2025, jumlah wisatawan domestik meningkat 16,46 persen yang berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat.
Pertumbuhan sektor pariwisata juga terlihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Pada subsektor akomodasi dan makan minum, kontribusi sektor ini meningkat dari sekitar 1,2 persen pada 2021 menjadi 1,38 persen pada 2025.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa sektor pariwisata mulai memainkan peran yang lebih besar dalam mendorong perekonomian daerah. Aktivitas ekonomi di sektor perdagangan, jasa, dan ekonomi kreatif turut mengalami peningkatan seiring bertambahnya kunjungan wisatawan.
“Hal ini menunjukkan peran strategis pariwisata sebagai salah satu penggerak perekonomian daerah,” ujar Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel Jufri Rahman, Rabu (15/04).
Menurutnya, sektor pariwisata tidak hanya berdampak pada pelaku usaha skala besar, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat di tingkat lokal. Dampak tersebut dirasakan oleh pelaku UMKM, pengrajin, seniman, hingga kelompok sadar wisata di desa-desa.
Pengembangan sektor ini dinilai mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, penguatan sektor pariwisata terus menjadi salah satu fokus pembangunan daerah.
Saat ini, Sulawesi Selatan memiliki 668 desa wisata yang menjadi bagian penting dalam pengembangan sektor pariwisata berbasis masyarakat. Pemerintah daerah terus mendorong desa wisata untuk berkembang melalui berbagai program penguatan kapasitas dan promosi destinasi.
Sejumlah event daerah juga diupayakan masuk dalam kalender nasional guna meningkatkan daya tarik wisata secara berkelanjutan. Upaya ini dilakukan untuk memperluas jangkauan promosi wisata daerah ke tingkat nasional maupun internasional.
Selain peningkatan jumlah wisatawan, sektor pariwisata Sulawesi Selatan juga mencatat sejumlah prestasi di tingkat nasional. Pada 2025, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Sulsel memperoleh penghargaan dalam ajang Wonderful Indonesia Awards.
Salah satu putra daerah, Muhammad Ikhwan AM, meraih penghargaan sebagai Local Hero in Tourism. Sementara itu, destinasi Puncak Bila di Kabupaten Sidenreng Rappang meraih Juara Harapan III kategori daya tarik wisata terbaik tingkat nasional.
Di sektor kebudayaan, Sulawesi Selatan juga mencatat kemajuan melalui penetapan sembilan warisan budaya takbenda Indonesia pada 2025. Warisan tersebut mencakup tradisi, tarian, kuliner khas, hingga ritual adat yang menjadi bagian dari identitas daerah.
Selain itu, terdapat 596 objek diduga cagar budaya yang terus diusulkan untuk memperoleh status resmi sebagai cagar budaya. Sepanjang 2025, empat objek di antaranya telah ditetapkan sebagai cagar budaya di tingkat provinsi maupun nasional.
Pemerintah daerah menilai sektor kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif memiliki karakteristik berbeda dibandingkan sektor industri besar. Sektor ini cenderung berbasis komunitas dan bersifat padat karya sehingga mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Oleh karena itu, pengembangan sektor pariwisata tidak hanya berfokus pada promosi destinasi, tetapi juga peningkatan aksesibilitas dan infrastruktur di kawasan wisata. Integrasi layanan wisata juga menjadi bagian penting dalam mendukung kenyamanan wisatawan.
“Karena itu, pembangunan berbasis pariwisata, kebudayaan, dan ekonomi kreatif menjadi salah satu kunci pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan inklusif, karena mampu membuka lapangan kerja sekaligus memperkuat daya saing daerah,” ujarnya.
Pemprov Sulsel menargetkan sektor kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi daerah dalam beberapa tahun ke depan. Penguatan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat menjadi strategi utama dalam mencapai target tersebut.
Sinkronisasi program antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota juga terus dilakukan untuk memastikan pembangunan berjalan efektif. Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap sektor pariwisata mampu memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap ekonomi daerah.
Syamsi Nur Fadhila














