KabarMakassar.com — Terminal Daya Makassar bersiap menjalani transformasi besar. Dengan mengusung konsep penataan ala bandara, pengelola berupaya menghidupkan kembali fungsi utama terminal sebagai simpul transportasi sekaligus pusat aktivitas ekonomi.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Terminal Makassar Metro, Elber Maqbul Amin, menegaskan bahwa langkah awal dalam proses penataan adalah menertibkan operasional Perusahaan Otobus (PO), yang selama ini masih banyak melakukan aktivitas bongkar-muat di luar area terminal.
“Yang harus kita tertibkan adalah regulasi PO. Bongkar-muat harus di dalam terminal, baik yang datang maupun yang berangkat,” ujar Elber, Selasa (22/07).
Menurutnya, jika seluruh aktivitas PO dipusatkan ke dalam area resmi terminal, maka Terminal Daya bisa berfungsi layaknya bandara. Penumpang datang, menunggu, bertransaksi, dan naik kendaraan dalam satu kawasan terpadu yang tertib dan produktif.
“Kalau ini dilakukan, terminal bisa hidup seperti konsep bandara,” tambahnya.
Saat ini, Elber mencatat, terdapat sekitar 2.000 hingga 3.000 penumpang yang melintasi area Terminal Daya setiap malam hingga pagi. Namun, karena aktivitas bongkar-muat dilakukan di luar, arus penumpang tersebut tidak berdampak pada perputaran ekonomi di dalam terminal.
“Kalau mereka menunggu di dalam, pasti akan ada transaksi beli makanan, minuman, ke toilet, beli rokok, dan lainnya. UMKM akan tumbuh. Tapi karena semua dilakukan di luar, terminal sepi dan ekonomi tidak bergerak,” tegasnya.
Salah satu tantangan terbesar dalam proses penataan, menurut Elber, adalah aspek regulasi. Ia menyebut bahwa kewenangan perizinan dan penertiban PO masih berada di tangan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Perhubungan melalui balai terkait.
“Kami ini pelaksana di lapangan. Karena itu dibutuhkan koordinasi lintas instansi dan dukungan dari pemerintah kota. Itu yang sedang dicari titik temunya oleh Pak Wali Kota,” ungkap Elber.
Terminal Daya sendiri memiliki kapasitas yang memadai untuk menampung banyak armada PO, serta moda transportasi lain seperti pete-pete, ojek, dan kendaraan daring. Dengan mengusung konsep integrasi transportasi, Elber optimistis Terminal Daya dapat menjadi simpul penting dalam jaringan transportasi Makassar.
Dari sisi pendapatan, saat ini Terminal Daya mencatat pemasukan harian sebesar Rp8 hingga Rp9 juta. Sumber pendapatan utama berasal dari retribusi penumpang sebesar Rp3.000 serta tarif masuk PO yang berkisar antara Rp15.000 hingga Rp20.000 per unit.
Meski demikian, Elber mengakui bahwa target dividen tahunan sebesar Rp300–400 juta belum pernah tercapai karena pendapatan yang masih belum optimal.
“Sampai saat ini belum ada setoran dividen yang terealisasi,” ujarnya.
Sebagai solusi, Elber menekankan perlunya pengembalian seluruh aktivitas PO ke dalam terminal, disertai dengan penerapan skema parkir dan layanan transportasi terpadu. Strategi ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah pengunjung dan memicu aktivitas ekonomi di dalam terminal.
Ia juga menambahkan pentingnya dukungan kebijakan melalui Peraturan Wali Kota (Perwali) atau bentuk regulasi lain sebagai dasar hukum agar operasional PO benar-benar bisa ditertibkan masuk ke dalam.
“Kalau itu sudah beres, kami yakin terminal akan hidup sesuai fungsi idealnya. Konsepnya sudah ada, tinggal bagaimana regulasi mendukung implementasinya,” tutup Elber.
Sebelumnya, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Terminal Daya, guna melihat langsung kondisi terminal dan memetakan langkah strategis untuk menata kembali fungsi terminal sebagai simpul transportasi yang tertib dan produktif.
Dalam kunjungannya, Wali Kota yang akrab disapa Appi itu menegaskan bahwa lokasi Terminal Daya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi terminal modern, asalkan ada sinergi kewenangan antarinstansi.
“Hari ini, melihat terminal yang letaknya yang sangat strategis, ini sangat memungkinkan untuk menjadi terminal yang berfungsi penuh,” ujar Appi.
“Banyak terminal modern yang bisa kita jadikan contoh, tapi kita harus pahami bahwa tidak semua kewenangan ada di pemerintah kota,” tambahnya.
Ia menyebut, Pemkot Makassar akan segera melakukan koordinasi dengan pihak terkait, baik dari pemerintah Provinsi maupun Pusat, guna memastikan pengelolaan terminal dapat berjalan maksimal dan terintegrasi.
“Yang jadi kendala utama adalah maraknya terminal bayangan. Maka, penegakan aturan harus dimaksimalkan. Tapi ini tidak bisa jalan sendiri. Harus ada keterlibatan semua pihak,” tegasnya.
Appi juga menekanakan pentingnya memaksimalkan fungsi terminal agar penumpang tidak naik turun di luar kawasan terminal. Idealnya, seluruh penumpang masuk dan turun di dalam terminal.
“Supaya ekosistem ekonomi di sekitar terminal bisa tumbuh, UMKM bisa bergerak, dan transportasi bisa saling mendukung,” jelasnya.














