KabarMakassar.com — Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Makassar mengakui keterbatasan personel di tengah lonjakan aduan masyarakat terkait Penerangan Jalan Umum (PJU) sejak hadirnya aplikasi Lontara+.
Kepala Dinas Perhubungan Makassar, M Rheza, menyebutkan jumlah laporan yang masuk meningkat signifikan dibanding sebelum aplikasi Lontara+ digunakan.
Katanya, lontara+ menjadi bukti Pemkot Makassar memberikan ruang yang mudah kepada masyarakat untuk melapor.
“Dulu sebelum ada Lontara, aduan hanya 60 sampai 80 per hari. Sekarang bisa tembus 130 lebih. Ini menunjukkan masyarakat semakin aktif melapor,” ujarnya kepada awak media, Minggu (05/04).
Kata Rheza, lonjakan tersebut sempat menyebabkan penumpukan laporan hingga lebih dari 1.000 aduan. Kondisi ini dipicu tingginya volume laporan yang tidak sebanding dengan jumlah personel serta keterbatasan armada operasional di lapangan.
“Kendala kami ada pada keterbatasan personil dan kendaraan operasional karena ini pekerjaan teknis,” jelasnya.
Meski demikian, Dishub menyebut telah melakukan percepatan penanganan melalui strategi khusus bertajuk “PJU to Zero Lontara Plus”. Dalam waktu kurang dari sepekan, tim berhasil menuntaskan seluruh aduan yang tertunggak.
“Alhamdulillah dalam 4 sampai 5 hari kami berhasil menolkan semua laporan yang tertinggal,” kata Rheza.
Setelah backlog diselesaikan, laporan baru tetap masuk setiap hari. Saat ini rata-rata aduan berkisar 40-an per hari dan terus ditangani secara bertahap oleh tim di lapangan.
Ia menambahkan, pekerjaan perbaikan PJU memiliki risiko tinggi, terutama saat kondisi cuaca buruk. Faktor hujan kerap menjadi kendala karena berisiko terhadap keselamatan petugas.
“Kalau hujan, sangat berbahaya karena rawan tersengat listrik, jadi tidak bisa dipaksakan,” ujarnya.
Dari pemetaan wilayah, aduan terbanyak berasal dari kawasan selatan Makassar, khususnya rayon Selatan dan Tamalate Timur.
“Kita di Dishub sudah menambah jumlah tim di wilayah itu, supaya cepat selesai,” tukasnya.
