KabarMakassar.com — Upacara penurunan bendera peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia di Lapangan Karebosi, Minggu (17/08), tidak hanya berlangsung khidmat, tetapi juga menghadirkan nuansa budaya yang kental melalui balutan pakaian adat yang dikenakan para pejabat.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin alias Appi, tampil berwibawa dengan pakaian adat Toraja berwarna kuning keemasan. Busana tersebut dipadu dengan motif khas Toraja, kalung tradisional, serta passapu (penutup kepala) yang menjadi simbol kehormatan dan integritas. Kehadirannya dengan pakaian adat Toraja menjadi penegasan bahwa Makassar adalah kota yang menjunjung tinggi keragaman budaya Sulawesi Selatan.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, tampak anggun dalam busana adat Bugis berwarna oranye terang, dilengkapi hijab putih, serta perhiasan perak berbentuk lempengan besar di bagian dada. Penampilannya semakin megah dengan hiasan kepala bercorak perak, menampilkan keindahan warisan budaya Bugis yang sarat nilai keanggunan.
Tak hanya keduanya, jajaran pejabat Pemerintah Kota Makassar, termasuk Ketua TP PKK Makassar, Melinda Aksa Mahmud, serta kepala organisasi perangkat daerah (OPD), juga hadir dengan pakaian adat sesuai daerah masing-masing. Kehadiran mereka memperlihatkan semangat kebhinekaan yang menjadi fondasi persatuan bangsa.
Dalam kesempatan itu, Appi nam karibnya menegaskan bahwa pemilihan busana adat Toraja yang ia kenakan bukan sekadar pilihan seremonial, melainkan bentuk penghormatan terhadap salah satu budaya besar di Sulawesi Selatan.
“Kebetulan pakaian adat Toraja ini yang sangat siap, jadi saya pakai. Suku Toraja juga bagian penting dari Sulawesi Selatan, yang memiliki ciri khas luar biasa dan wajib kita angkat sebagai bagian dari kekayaan budaya kita,” ujarnya.
Menurut Appi, penampilan dengan busana adat pada momen kenegaraan menjadi wujud nyata bagaimana semangat kemerdekaan lahir dari keberagaman. “Upacara ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan jiwa kebangsaan sekaligus mengaktualisasikan budaya Nusantara,” tambahnya.
Upacara penurunan bendera di Karebosi tahun ini diikuti jajaran Forkopimda, DPRD Kota Makassar, pasukan TNI-Polri, serta ribuan masyarakat. Prosesi berlangsung lancar dan khidmat, dengan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Makassar bertugas penuh tanggung jawab.
Dari Karebosi, peringatan HUT ke-80 RI di Makassar bukan hanya meninggalkan jejak kebangsaan, tetapi juga pesan kuat tentang pentingnya melestarikan budaya daerah sebagai identitas bangsa.
Upacara penurunan bendera dalam rangka peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia di Lapangan Karebosi, Winda Aulia, siswi SMAN 1 Makassar, dipercaya sebagai pembawa baki, dengan cadangan baki oleh Renata Brigitta Saveristy Yuwono dari SMA Katolik Rajawali Makassar.
Tugas pengolor bendera dijalankan oleh Naufal dari SMAN 10 Makassar, sementara Muhammad Fatir Safri dari SMAN 18 Makassar mendapat amanah sebagai pelipat bendera.
Sebagai komandan pasukan (Danpok), ditunjuk Muh. Imam Fauzan Syukri dari SMAN 12 Makassar. Adapun petugas penguat penurunan bendera teridru dari Gita Ghayda Tsuraya dari Ponpes Ummul Mukminin, Zulfairah Inayah Awali dari SMAN 2 Makassar, dan Raihanah Alqubro dari SMK Penerbangan Techno Terapan.
Sementara itu, posisi Komandan Kelompok 17 diemban oleh Muh. Nur Ichsan Yusuf dari SMK SMTI Makassar.
Rangkaian prosesi berlangsung tertib dengan formasi yang mencerminkan kedisiplinan dan tanggung jawab para anggota Paskibraka. Keberhasilan mereka mengibarkan dan menurunkan bendera Merah Putih menjadi simbol kebanggaan sekaligus bukti dedikasi generasi muda Kota Makassar dalam menjaga kehormatan negara.














