KabarMakassar.com — Wakil Menteri Kesehatan RI Benyamin Paulus Octavianus menegaskan pemerintah pusat menyiapkan 20 unit rontgen portabel untuk Kota Makassar dengan target 60.000 warga menjalani pemeriksaan tuberkulosis (TBC) sepanjang 2026.
“Dengan kapasitas satu alat melayani sekitar 3.000 pasien, kami perkirakan sekitar 60 ribu warga Makassar bisa diperiksa. Ini bagian dari upaya menekan TBC secara nasional,” ujar Benyamin saat kunjungan kerja di Makassar, Selasa (13/01).
Benyamin menyebutkan, berdasarkan data 2025, Kota Makassar mencatat 9.885 kasus TBC yang telah diobati. Dari jumlah tersebut, pemerintah akan melakukan tracing atau penelusuran kontak erat terhadap seluruh anggota keluarga penderita.
“Kalau ada hampir 10 ribu kasus, berarti ada ribuan rumah yang harus dikunjungi. Seluruh anggota keluarga akan diperiksa gratis, bukan hanya TBC, tapi juga gula darah, tekanan darah, dan rontgen,” katanya.
Menurutnya, pemeriksaan terpadu itu penting untuk mendeteksi penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, serta gangguan paru dan jantung sejak dini.
“Dengan begitu penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” lanjut Benyamin.
Mendukung pemeriksaan masif tersebut, Kementerian Kesehatan RI menyalurkan rontgen portabel dengan bobot ringan, sekitar tiga kilogram, sehingga bisa digunakan hingga tingkat kelurahan dan rumah warga.
“Alat ini bisa dibawa ke mana-mana, dipakai di puskesmas, kantor kelurahan, bahkan langsung ke rumah. Ini sangat mempermudah proses diagnosis,” jelasnya.
Kunjungan kerja Wamenkes di Makassar juga dimanfaatkan untuk meninjau langsung pelaksanaan program prioritas Presiden RI di bidang kesehatan, khususnya penanggulangan TBC melalui inovasi Pemerintah Kota Makassar bertajuk Hantu Mesra (Hunting Tuberkulosis dengan Metode Mengetuk Sayang Rumah Warga).
Agenda peninjauan berlangsung di Kantor Kelurahan Ballaparang, Kecamatan Rappocini, dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah penyintas TBC serta Puskesmas Ballaparang. Wamenkes didampingi Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, serta jajaran Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan dan Dinas Kesehatan Kota Makassar.
“Pendekatan aktif seperti ini penting. Petugas mendatangi rumah warga, meningkatkan active case finding, dan bila ditemukan langsung diterapkan prinsip TOSS TB, Temukan, Obati, Sampai Sembuh,” tegas Benyamin.
Ia juga mengungkapkan bahwa Sulawesi Selatan, termasuk Makassar, masuk wilayah prioritas nasional karena tergolong dalam delapan provinsi dengan kasus TBC tertinggi di Indonesia.
“Pemerintah pusat akan mengadopsi pendekatan daerah yang dinilai efektif sebagai bagian dari strategi nasional penurunan TBC dari Aceh hingga Papua,” pungkasnya.
