KabarMakassar.com — Kesehatan telinga hidung tenggorokan atau THT sangat perlu untuk dijaga. Hal itu karena THT memiliki fungsi yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia.
Dengan THT maka kita bisa mendengar, bernapas, mencium aroma, berbicara, hingga menelan makanan dan minuman.
Apabila terdapat gangguan pada kesehatan THT atau penyakit yang menyerang THT maka dianjurkan untuk segera menemui dokter spesialis THT. Karena organ-organ ini bisa mengalami gangguan kesehatan misalnya karena infeksi, alergi, atau tumor.
Otolaringologis atau dokter spesialis THT merupakan dokter yang khusus menangani masalah kesehatan telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).
Dilansir dari laman alodokter yang merupakan mitra resmi dari Kementerian Kesehatan terdapat beberapa gangguan THT yang dapat berbahaya bagi kesehatan.
Gangguan pada telinga
1. Infeksi telinga terjadi ketika kuman masuk dan menginfeksi telinga. Kondisi ini bisa terjadi pada telinga luar, telinga tengah, maupun telinga bagian dalam. Gejala infeksi telinga dapat berupa nyeri telinga, gangguan pendengaran, demam, atau keluar cairan dari telinga.
2. Gangguan pendengaran atau tuli dapat terjadi karena kelainan konduktif (melibatkan telinga bagian luar atau tengah), sensorineural (melibatkan telinga bagian dalam), atau kombinasi keduanya. Penyebabnya bisa karena faktor usia, paparan terhadap suara keras dalam jangka panjang, tumbuh tumor yang menghalangi fungsi pendengaran, atau kotoran telinga yang menumpuk.
3. Salah satu penyebab gangguan sistem keseimbangan adalah labyrinthitis, akibat infeksi atau peradangan pada telinga bagian dalam. Kondisi ini menyebabkan penderitanya mengalami pusing berputar.
Gangguan keseimbangan juga bisa disebabkan oleh Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV), atau penyakit Ménière yang disertai gangguan pendengaran, telinga berdenging, dan telinga terasa penuh. Untuk menentukan penyebab gangguan keseimbangan, dokter THT akan melakukan pemeriksaan fisik, tes pendengaran, dan pemeriksaan penunjang, seperti tes darah. Setelah penyebabnya diketahui, dokter THT akan memberikan pengobatan sesuai penyebabnya.
Gangguan pada hidung
1. Sinusitis terjadi apabila jaringan rongga sinus mengalami peradangan atau bengkak. Kondisi ini bisa disebabkan oleh flu, rinitis alergi, polip hidung, dan kelainan bentuk sekat hidung atau deviasi septum. Sinusitis ringan dapat diatasi dengan pemberian obat dekongestan, cairan khusus untuk mencuci hidung, dan antibiotik. Selain itu, udara lembap dan hangat juga bisa mendukung penyembuhan sinusitis. Untuk menjaga udara tetap lembap, bisa menggunakan alat penguap (vaporizer) atau pelembap ruangan.
2. Gangguan penciuman mengakibatkan seseorang kehilangan kemampuan dalam mencium aroma. Ada banyak kondisi yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan penciuman, di antaranya adalah cedera kepala, polip hidung, kerusakan saraf penciuman, flu, dan efek samping pengobatan. Penanganan gangguan penciuman tergantung pada penyebabnya.
3. Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh merespons secara berlebihan terhadap sesuatu yang dianggap asing, seperti debu, tungau, jamur, bulu binatang, makanan tertentu, sengatan serangga, atau obat-obatan. Salah satu gejala alergi adalah bersin-bersin, hidung tersumbat, gatal dan berair. Alergi dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan antialergi (seperti antihistamin), imunoterapi, dan menghindari zat yang menyebabkan reaksi alergi sebagai pencegahan.
Gangguan tenggorokan
1. Radang amandel terjadi ketika amandel, yaitu benjolan jaringan di kedua bagian sisi belakang tenggorokan, mengalami pembengkakan akibat infeksi virus atau bakteri. Gejalanya berupa nyeri tenggorokan, amandel membengkak dan memerah, kesulitan atau nyeri saat menelan, terdapat lapisan berwarna putih atau kekuningan pada amandel, bengkak di leher, demam, dan bau mulut.
2. Laringitis adalah pembengkakan pada dinding organ laring (kotak suara) di tenggorokan. Gejala yang timbul umumnya suara serak dan rasa sakit atau tidak nyaman pada bagian depan leher. Dokter spesialis THT biasanya merekomendasikan terapi suara guna mengurangi cedera laring atau antibiotik bila diperlukan. Agar tidak semakin parah, batasi berbicara, hindari paparan asap rokok, debu, minuman beralkohol, dan kafein.
3. Kanker nasofaring merupakan kanker yang terbentuk dari jaringan di dinding belakang hidung atau tenggorokan. Beberapa faktor risiko untuk terkena kanker nasofaring adalah riwayat keluarga dengan kanker nasofaring, infeksi virus Epstein-Barr, merokok, dan konsumsi alkohol berlebih. Gejala penyakit ini bisa mirip dengan gejala penyakit pada hidung dan tenggorokan lain, seperti sakit tenggorokan, benjolan di leher atau tenggorokan, sering mimisan, serta sulit untuk menelan, berbicara, atau bernapas.
Untuk memastikan diagnosisnya, dokter perlu melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang seperti biopsi, CT-scan atau MRI hidung dan tenggorokan, serta tes darah. Pengobatan bisa dilakukan dengan kemoterapi, radioterapi, dan operasi.












