kabarbursa.com
kabarbursa.com

Jangan Abaikan! Astigmatisme Bisa Dialami Anak hingga Lansia

Jangan Abaikan! Astigmatisme Bisa Dialami Anak hingga Lansia
Ilustrasi mata (Dok: Int)

KabarMakassar.com — Astigmatisme adalah gangguan penglihatan yang disebabkan oleh kelainan bentuk kelengkungan pada kornea atau lensa mata.

Kelainan tersebut menyebabkan cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus dengan baik di retina, sehingga menimbulkan pandangan yang kabur atau tampak menyimpang, baik pada jarak dekat maupun jauh.

Kondisi ini acap kali muncul bersamaan dengan kelainan refraksi lainnya, seperti miopi (rabun jauh) atau hipermetropi (rabun dekat).

Pada banyak kasus, astigmatisme telah ada sejak lahir, akan tetapi dapat pula berkembang akibat cedera mata atau tindakan medis seperti operasi.

Berdasarkan letak kelainannya, astigmatisme kemudian terbagi menjadi dua tipe utama. Tipe pertama ialah astigmatisme korneal, yaitu gangguan yang terjadi karena bentuk kelengkungan kornea yang tidak normal.

Kornea merupakan lapisan bening di bagian depan mata yang berfungsi membiaskan cahaya masuk.

Jenis kedua adalah astigmatisme lentikular, yang disebabkan karena kelainan bentuk kelengkungan pada lensa mata. Lensa ini bekerja sama dengan kornea agar memfokuskan cahaya ke retina agar menghasilkan penglihatan yang jelas.

Walau penyebab pasti kelainan bentuk kornea atau lensa belum sepenuhnya diketahui, para ahli menduga jika faktor genetik memiliki peran penting.

Astigmatisme sering kali diturunkan dalam keluarga, menunjukkan adanya kecenderungan hereditas terhadap kondisi ini.

Dalam kondisi mata normal, kelengkungan kornea serta lensa bersifat simetris, sehingga cahaya bisa dibiaskan secara merata ke retina.

Akan tetapi pada penderita astigmatisme, bentuk permukaan kornea atau lensa menjadi tidak merata, sehingga cahaya dibiaskan ke beberapa titik fokus yang berbeda.

Akibat kelainan ini, bayangan objek yang dilihat pun menjadi tidak tajam dan terlihat seperti terdistorsi atau miring. Hal ini bisa mempengaruhi kualitas penglihatan secara keseluruhan serta membuat aktivitas visual sehari-hari menjadi kurang nyaman.

Astigmatisme bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak maupun orang dewasa. Kondisi ini sering kali tidak disadari sampai seseorang menjalani pemeriksaan mata secara menyeluruh.

Sejumlah faktor risiko diketahui dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami astigmatisme.

Di antaranya adalah derajat rabun jauh atau rabun dekat yang tinggi, juga adanya gangguan mata lain seperti keratoconus, yaitu kondisi penonjolan kornea secara abnormal.

Selain itu, riwayat cedera atau infeksi mata yang menyebabkan jaringan parut pada kornea juga mampu memicu terjadinya astigmatisme.

Operasi mata, termasuk prosedur katarak, kadang-kadang juga mampu memengaruhi bentuk permukaan kornea, sehingga meningkatkan risiko gangguan ini.

Gejala Astigmatisme

Melansir Alodokter, meskipun astigmatisme sering tidak menimbulkan gejala, sejumlah penderita bisa mengalami keluhan berikut:

1. Distorsi penglihatan
Bentuk objek terlihat berubah, seperti garis lurus tampak miring atau huruf C tampak seperti O.

2. Penglihatan kabur

Pandangan menjadi buram atau tidak fokus, baik dari jarak dekat maupun jauh.

3. Sulit melihat di tempat gelap

Kesulitan melihat jelas di malam hari atau dalam pencahayaan rendah.

4. Mata muda lelah

Mata cepat lelah, terasa pegal, atau tidak nyaman usai aktivitas visual.

5. Menyipitkan mata

Kebiasaan menyipitkan mata untuk mencoba membuat penglihatan menjadi lebih jelas.

6. Sakit kepala

Sakit kepala akibat ketegangan mata yang terus-menerus berusaha untuk memfokuskan pandangan.

Pencegahan Astigmatisme

Seperti diketahui, astigmatisme dapat menyebabkan gangguan penglihatan berupa pandangan yang kabur. Pada orang dewasa, keluhan ini biasanya mudah dikenali karena mereka dapat menyadari adanya perubahan pada penglihatannya.

Akan tetapi, hal ini berbeda pada bayi dan anak-anak, yang mungkin belum mampu mengungkapkan keluhan secara jelas.

Oleh sebab itu, pemeriksaan mata secara rutin menjadi sangat penting, terutama sejak usia dini.

Pemeriksaan awal sebaiknya dilakukan pada bayi baru lahir, lalu dilanjutkan secara berkala, terutama saat anak memasuki usia sekolah.

Untuk deteksi dan penanganan dini berbagai gangguan penglihatan, termasuk astigmatisme, dokter mata biasanya menyarankan jadwal pemeriksaan yaitu setiap dua tahun sekali bagi individu hingga usia 65 tahun, dan setahun sekali bagi mereka yang berusia di atas 65 tahun.

error: Content is protected !!