KabarMakassar.com — Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (08/07). Mengutip data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp16.200/US$, naik 0,15% dibanding penutupan sebelumnya.
Penguatan rupiah sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,27% ke level 97,21 pada pukul 16.00 WITA. Namun, pergerakan rupiah sepanjang hari berlangsung cukup volatil.
Saat pembukaan pasar, rupiah sempat melemah ke posisi Rp16.265/US$ atau turun 0,25%. Meski begitu, mata uang Garuda mampu bangkit dan ditutup menguat di akhir sesi perdagangan.
Dibayangi Tarif 32% dari Trump
Pasar keuangan Indonesia hari ini dibayangi sentimen negatif menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump soal kebijakan tarif dagang baru.
Dalam surat resmi yang dikirim ke 14 negara, termasuk Indonesia, Trump menyatakan akan mengenakan tarif tambahan sebesar 32% atas seluruh produk asal Indonesia mulai 1 Agustus 2025.
“Mulai 1 Agustus 2025, kami akan menjatuhkan tarif sebesar 32% kepada semua produk Indonesia yang akan dikirim ke AS, terpisah dari tarif sektoral yang dijatuhkan,” tulis Trump melalui akun media sosialnya, Truth Social.
Dalam unggahannya, Trump juga membagikan tangkapan layar surat-surat resmi yang ditujukan kepada sejumlah pemimpin negara lain, di antaranya Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Kazakhstan, Afrika Selatan, Laos, Myanmar, hingga Serbia dan Bosnia-Herzegovina.
Kabar ini menjadi pukulan telak bagi Indonesia yang sebelumnya telah menjalani 90 hari negosiasi intensif dengan perwakilan pemerintahan Trump.
Langkah Trump dinilai menunjukkan arah kebijakan dagang unilateral yang kian agresif menjelang pemilu presiden AS.
Kekhawatiran atas dampak dari perang dagang jilid baru serta ancaman perlambatan ekonomi global membuat pelaku pasar mengambil posisi hati-hati.
Sentimen wait and see terlihat dari pergerakan mata uang dan imbal hasil obligasi yang cenderung stagnan dalam beberapa hari terakhir.














