KabarMakassar.com — Nilai tukar rupiah terpantau mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini Rabu (23/07).
Menurut Refinitiv, rupiah mengalami penguatan hingga 0,25 persen di posisi Rp16.265/US$, usai perdagangan kemarin rupiah berada dalam pergerakan yang cukup stabil hingga ditutup stagnan di Rp16.305/US$.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada perdagangan kemarin mengalami penurunan sebesar 0,47 persen serta di tutup pada posisi 97,39. Menjadi tanda akan adanya penurunan indeks dolar AS tiga hari terakhir.
Walau begitu pada pukul 10.00 WITA indeks dolar (DXY) tercatat menguat 0,09 persen ke level 97,48.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi, menilai jika penguatan nilai tukar rupiah saat ini didorong oleh ekspektasi pasar atas kemungkinan penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan probabilitas terkini, peluang The Fed dalam mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Federal Open Market Committee yang dijadwalkan pada 30 Juli mendatang mencapai hingga 97 persen. Sedangkan, peluang untuk pemangkasan suku bunga 25 basis poin hanya sebanyak 3 persen.
Di tengah berbagai dinamika yang ada, Gubernur The Fed Jerome Powell kini tengah menghadapi tuduhan serius atas dugaan memberikan keterangan palsu di bawah sumpah ketika berbicara di hadapan Kongres. Tuduhan tersebut berkaitan dengan proyek renovasi kantor pusat bank sentral AS yang bernilai 2,5 miliar dolar AS.
Laporan resmi atas dugaan tersebut juga telah diajukan ke Departemen Kehakiman AS oleh Anggota DPR dari Partai Republik, Anna Paulina Luna.
Di satu sisi, penguatan nilai tukar rupiah turut didorong oleh memudarnya harapan terhadap tercapainya kesepakatan perdagangan antara Uni Eropa (UE) dan AS.














