KabarMakassar.com — Bank Indonesia (BI) terus memantau dan menyesuaikan strategi kebijakannya untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tantangan global yang masih tinggi. Berdasarkan perkembangan terkini, BI melaporkan indikator utama yang mempengaruhi stabilitas nilai tukar Rupiah serta langkah-langkah yang diambil untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.
Dalam keterangan resmi BI yang dikutip Sabtu (03/08) aliran modal asing ke Indonesia terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data transaksi periode 29 Juli hingga 1 Agustus 2024, investor nonresiden mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp10,27 triliun. Rincian pembelian tersebut meliputi Rp5,77 triliun di pasar SBN, Rp2,19 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan Rp2,31 triliun di pasar saham.
Namun, premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia untuk tenor 5 tahun meningkat dari 72,95 bps pada 26 Juli 2024 menjadi 75,81 bps pada 1 Agustus 2024. Kenaikan premi CDS ini mencerminkan peningkatan risiko yang dipersepsikan oleh pasar terhadap ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Sementara, Selama periode 29 Juli hingga 2 Agustus 2024, nilai tukar Rupiah mengalami fluktuasi namun tetap berada dalam rentang yang relatif stabil. Pada penutupan hari Kamis, 1 Agustus 2024, Rupiah ditutup di level Rp16.230 per dolar AS. Pada Jumat pagi, 2 Agustus 2024, Rupiah dibuka sedikit melemah di level Rp16.235 per dolar AS.
Di sisi lain, yield Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor 10 tahun menunjukkan penurunan, dari 6,87% pada 1 Agustus menjadi 6,79% pada 2 Agustus. Penurunan ini sejalan dengan tren global, di mana yield US Treasury (UST) Note 10 tahun juga turun ke level 3,976%. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 104,42, mencerminkan permintaan dolar yang tinggi di pasar internasional.
Bank Indonesia terus mengimplementasikan bauran kebijakan moneter yang proaktif untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16-17 Juli 2024, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 6,25%, dengan suku bunga Deposit Facility di 5,50% dan Lending Facility di 7,00%. Keputusan ini diambil untuk menjaga inflasi tetap terkendali dalam target 2,5±1% pada 2024 dan 2025.
BI juga memperkuat strategi operasi moneter untuk meningkatkan daya tarik imbal hasil aset keuangan domestik, termasuk optimalisasi instrumen SRBI, Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI). Langkah-langkah ini diharapkan dapat menarik lebih banyak aliran modal asing ke Indonesia.
Penguatan Kerjasama dan Inklusi Ekonomi
Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah pusat dan daerah untuk mengatasi dampak ketidakpastian global. Ini termasuk dukungan terhadap Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan sinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Selain itu, BI juga fokus pada penguatan digitalisasi sistem pembayaran melalui program Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) x Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2024. Program ini bertujuan untuk meningkatkan inklusi keuangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, khususnya melalui pemberdayaan UMKM.
Prospek Ekonomi Global dan Domestik
Meskipun ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi, prospek ekonomi global pada 2024 diperkirakan tumbuh sebesar 3,2%, dengan Amerika Serikat dan Eropa menjadi pendorong utama. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Tiongkok masih tertekan oleh lemahnya permintaan domestik.
Di tengah situasi ini, Bank Indonesia tetap optimis bahwa fundamental ekonomi Indonesia yang kuat akan mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah. BI berkomitmen untuk terus memantau perkembangan global dan mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
Penanganan Tantangan Eksternal
Bank Indonesia memahami bahwa ketidakpastian global tidak hanya datang dari pasar keuangan, tetapi juga dari perkembangan geopolitik dan perubahan kebijakan di negara-negara maju. Untuk itu, BI terus berupaya meningkatkan komunikasi dengan pelaku pasar dan memperkuat kerjasama internasional, baik dalam forum bilateral maupun multilateral.
BI juga mendorong diversifikasi ekonomi melalui penguatan sektor-sektor non-migas dan peningkatan nilai tambah produk ekspor. Pengembangan infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi fokus utama untuk memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.
Di tengah ketidakpastian global, Bank Indonesia tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi dengan mengimplementasikan kebijakan moneter yang tepat dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah serta lembaga terkait. Melalui langkah-langkah ini, diharapkan ekonomi Indonesia dapat tetap tumbuh secara berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat dapat terus meningkat.













