KabarMakassar.com — Sulawesi Selatan (Sulsel) masuk dalam 10 daftar provinsi penghasil daging babi teratas yang ada di Indonesia. Wilayah Sulsel menorehkan peringkat ketujuh dalam daftar tersebut setelah DKI Jakarta. Itu berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Berdasarkan laman resmi BPS, provinsi teratas penghasil daging terdiri atas Bali sebanyak 51.391 ton, Sulawesi Utara 27.420 ton, Nusa Tenggara Timur yaitu 13.829 ton, Sumatera Utara sebesar 11.637 ton, Kalimantan Barat 4.898 ton, DKI Jakarta 4.739 ton, Sulsel sebanyak 4.617 ton, Kepulauan Riau 4.125 ton, Papua Pegunungan dengan jumlah produksi 3.913 ton dan Banten sebesar 3.641 ton, yang menjadi peringkat ke 10 dari provinsi penghasil daging babi di tahun 2023 yang datanya telah diperbarui Maret 2024.
Provinsi Sulsel memiliki populasi ternak babi yang cukup banyak di Indonesia bahkan sempat masuk 3 terbesar, tetapi karena African Swine Fever atau ASF yang pernah menjangkit ternak di 2023 lalu terjadi penurunan yang cukup signifikan. Kini hanya sedikit populasi yang tersisa.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurlina Saking menyampaikan terkait dengan populasi ternak yang ada.
“Terkait daging babi, produksi babi kita memang ada 10 kabupaten kota, total populasi sendiri mencapai 754 ribu ekor, sedangkan populasi terbesar ada di Toraja Utara dan Tana Toraja, namun kemarin dengan adanya African Swine Fever boleh dikatakan hanya 10 persen yang tersisa,” ujarnya.
Beberapa kabupaten kota yang dimaksud diantaranya adalah Gowa, Maros, Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Pinrang, Tana Toraja, dan Toraja Utara.
Ia melanjutkan, alasan ternak yang tersisa sedikit dikarenakan beberapa daerah seperti Gowa, Maros juga Luwu menempatkan ternak di satu lokasi. Berbeda dengan Luwu Timur yang menempatkan di beberapa lokasi.
“Bahkan kalau di Toraja itu seperti memelihara ayam kampung, jadi ada dimana-mana. Tapi semua itu terhempas di 2023, boleh saya katakan habis. Tadinya masuk 3 terbesar mungkin sekarang tidak lagi,” urainya.
Nurlina menyebut, ASF merupakan penyakit menular, virus yang menyerang ternak babi tersebut tidak ada obatnya, namun belum ada vaksin untuk mencegahnya. Oleh karena itu, dilakukan upaya agar ternak yang ada tidak tertular kembali.
“Jadi yang dibutuhkan adalah bagaimana ternak ini tidak sampai tertular. Jadi kita kosongkan dulu, baru kembali memasukkan babi-babi yang sehat dan kita pastikan dari berasal dari daerah yang tidak tertular ASF karena beberapa provinsi telah tertular,” jelasnya.














