KabarMakassar.com — Krisis internal tengah mengguncang tubuh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Makassar.
Sejumlah pengurus inti memilih mundur secara bersamaan di tengah memanasnya persoalan internal organisasi, dengan sorotan tajam mengarah pada kepemimpinan serta pengelolaan anggaran.
Gelombang pengunduran diri itu datang dari posisi strategis, mulai dari Sekretaris KONI Makassar Iqbal Djalil, Wakil Sekretaris Queensyah Azahrah Kirana Siliwangi, Ketua Bidang Pendidikan dan Penataran Andi Yasin Iskandar, hingga Wakil Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Arianto Najib yang juga merupakan formatur dalam Musorkot sebelumnya.
Salah satu pengurus yang enggan menyebutkan namanya menyebut, Ia memilih mundur karena keputusan itu diambil setelah menilai situasi internal organisasi semakin tidak sehat dan penuh risiko.
“Saya memilih mundur karena sudah tidak ada lagi kesamaan pandangan dengan kepemimpinan yang ada sekarang. Kalau terus bertahan justru bisa berdampak buruk bagi organisasi maupun diri saya sendiri,” ujarnya.
Dia mengaku kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, situasi yang berkembang saat ini memunculkan trauma terhadap persoalan yang pernah terjadi di tubuh organisasi olahraga tersebut beberapa tahun lalu.
“Kita belajar dari pengalaman sebelumnya. Saya melihat ada potensi persoalan yang serupa, jadi lebih baik menghindar sebelum terlambat,” katanya.
Tak hanya soal perbedaan visi, persoalan pengelolaan anggaran juga disebut menjadi pemicu utama mundurnya para pengurus.
Pengurus lainnya yang ikut mengundurkan diri menilai tata kelola anggaran di internal KONI Makassar sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan.
“Sudah terlalu riskan. Saya tidak ingin terseret dalam hal-hal yang nantinya bermasalah. Karena yang saya lihat, pengelolaan anggarannya justru sangat berbahaya,” ungkapnya.
Ia menyinggung penggunaan dana hibah pada tahun sebelumnya yang dinilai berlangsung dalam waktu singkat tanpa arah pembinaan yang jelas.
“Dana hibah Rp15 miliar itu habis hanya dalam waktu sekitar tiga bulan. Sementara kalau melihat kondisi cabang olahraga, pembinaannya tidak menunjukkan dampak signifikan. Itu yang membuat kami mempertanyakan,” katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti dugaan belanja anggaran yang dinilai tidak tepat sasaran, termasuk alokasi yang disebut menyentuh pengadaan kendaraan dinas.
“Sudah pernah diingatkan agar organisasi ini jangan dijadikan tempat mencari keuntungan. Jangan ada pola titip-menitip anggaran. Tapi peringatan itu seperti tidak dianggap,” tukasnya.














