KabarMakassar.com – Kota Makassar menghadapi tantangan besar setelah pemerintah pusat memangkas Dana Alokasi Umum (DAU) hingga mencapai Rp500 miliar.
Jumlah tersebut dianggap bukan angka kecil, sehingga Pemerintah Kota Makassar harus melakukan langkah efisiensi besar-besaran dalam penyusunan program kerja.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin atau yang akrab disapa Appi, menegaskan bahwa pihaknya bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) sedang menghitung ulang postur keuangan untuk memastikan program prioritas tetap berjalan di tengah keterbatasan.
“Lagi bersama TAPD untuk kita hitung. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini kita sudah bisa melihat mana yang menjadi program prioritas dan bukan, mana yang bisa dipotong atau dihilangkan dan mana yang bukan,” ungkap Appi, Jumat (03/10).
Menurutnya, pemangkasan hingga Rp500 miliar memberikan dampak signifikan karena nilai tersebut sebenarnya bisa membiayai banyak program penting. Karena itu, Pemkot Makassar harus memperkuat dua hal utama: memaksimalkan pendapatan dan mengontrol pengawasan agar tidak ada kebocoran.
“Nilai Rp500 miliar itu bukan sedikit. Banyak sekali yang bisa dibikin. Sehingga yang paling pertama memaksimalkan dan kedua adalah mengontrol pendapatan, sehingga pendapatan ini bisa memberikan sumbangsih lebih dari hasil yang dimiliki oleh Pemerintah Kota,” tegasnya.
Appi menekankan bahwa upaya peningkatan pendapatan bukan berarti harus menaikkan seluruh jenis retribusi atau pajak. Sebaliknya, yang lebih penting adalah memperbaiki pengawasan dan meningkatkan kepatuhan wajib pajak.
Ia mencontohkan salah satunya dari sektor Online Single Entry (OVSEN) yang hingga kini kepatuhannya baru sekitar 42 persen.
“Bukan harus menaikkan semuanya, bukan. Tetapi mengontrol pengawasan. Contoh kayak OVSEN itu, kan kepatuhannya cuma 42%. Ya kita kejar lah biar bisa lebih maksimal,” ujarnya.
Di sisi lain, Appi tidak menampik bahwa efisiensi dan pengetatan ikat pinggang akan menjadi keniscayaan di tahun anggaran mendatang. Program-program yang sebelumnya dijalankan dengan biaya besar dan penuh kemewahan akan disederhanakan, selama tujuan utama tetap tercapai.
“Sepertinya begitu, sepertinya kita harus lebih efisien. Sehingga kalau umpamanya program-program itu jalan dengan kegiatan yang wah, dengan biaya besar, dengan tujuan yang sama, ya kenapa tidak tetap dijalankan lebih sederhana, tapi tujuannya tetap sama,” Pungkasnya.















