KabarMakassar.com — Dinas Sosial (Dinsos) Kota Makassar meningkatkan intensitas penanganan anak jalanan (anjal) dan gelandangan-pengemis (gepeng) dengan menyebar petugas intelijen sosial di sembilan titik rawan.
Langkah ini diambil menyusul maraknya pergerakan manusia silver dan anjal di Kota Makassar.
Kepala Dinsos Makassar, Andi Bukti Djufrie, mengungkapkan bahwa para anjal yang sebelumnya aktif di Makassar kini terpantau di beberapa daerah sekitar.
“Informasi terakhir dari Dinsos Pangkep, ada satu keluarga manusia silver total tujuh orang yang diklaim berasal dari Makassar. Begitu juga dari Sidrap, ada dua orang manusia silver yang ditangkap di sana, mengaku dari Makassar dan kini dalam proses pengembalian,” jelasnya, Jumat (18/07).
Menurut Andi Bukti, intensifnya penjangkauan di lapangan membuat ruang gerak para anjal semakin terbatas di kota ini. Dinsos tidak lagi sekadar melakukan razia, namun memperkuat pendekatan edukatif melalui sosialisasi di sembilan titik keramaian dan perbatasan strategis, seperti bandara, Jalan Haji Bau, Sudirman, dan BTP.
“Setiap Selasa dan Kamis kami turun ke lapangan memberi edukasi ke warga agar tidak memberi uang kepada anjal. Karena sekali memberi, meski Rp2.000, kalau terus menerus, itu memicu mereka untuk tetap di jalan,” ujarnya.
Dinsos juga menerapkan strategi malam hari berupa penjangkauan, bukan penangkapan, terhadap anjal yang masih berkeliaran. Aksi ini didukung penuh oleh Satpol PP dan Tim Rehabilitasi Sosial (RTC). Informasi keberadaan anjal di berbagai titik kini lebih cepat ditangkap berkat keberadaan jaringan intel sosial yang disebar ke seluruh kota.
Sembilan titik rawan itu dipilih berdasarkan konsentrasi anjal yang sering ‘bercokol’ di area ramai. “Misalnya persimpangan bandara, itu banyak pengemis karena lalu lintas orang sangat tinggi di sana,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dinsos Makassar juga melakukan transformasi penanganan dengan tidak lagi melepaskan anjal yang terjaring hanya dalam hitungan jam atau hari. Kini, mereka langsung dibawa ke lokasi pembinaan di Barombong, fasilitas yang lebih luas dari Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) sebelumnya.
“Di sana, anak-anak akan dibina dan dilatih. Kami bekerjasama dengan Disnaker untuk pelatihan keterampilan lewat LPK, lalu dengan Dinas UMKM dan Koperasi untuk dukungan modal dan alat usaha. Targetnya mereka bisa mandiri dan tidak kembali ke jalan,” terang Andi Bukti.
Dengan pendekatan kombinatif antara edukasi masyarakat, penjangkauan berbasis intelijen, serta pembinaan berkelanjutan, Pemkot Makassar menargetkan bisa menekan angka anjal secara signifikan dan mendorong reintegrasi sosial secara berkelanjutan.














