KabarMakassar.com — Memperingati hari Pahlawan Nasional tahun 2022, Pemerintah memberikan penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada lima tokoh, salah satunya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam VIII.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam VIII berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
KGPAA Paku Alam VIII lahir di Yogyakarta pada tanggal 10 April 1910 dengan nama kecilnya BRMH Sularso Kunto Suratno.
Di masa mudanya, ia menempuh Pendidikan di Europesche Lagere School Yogyakarta, Christelijik Mulo Yogyakarta, AMS B Yogyakarta dan Rechtshoogeschool te Batavia.
KGPAA Paku Alam VIII merupakan seorang Raja Paku dari tahun 1937 sampai dengan tahun 1989. Beliau merupakan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pertama bersama dengan Gubernur DIY pertama Hamengku Buwono IX.
Tidak hanya sebagai pemimpin, Paku Alam juga adalah pejuang yang mengisi kemerdekaan Republik Indonesia (RI) terlebih, kiprah dan perhatiannya terhadap dunia Pendidikan. Maka dari itu, tidak bisa dipungkiri besarnya peran Paku Alam terhadap Bangsa dan Negara.
Hal ini terbukti dengan dedikasinya dalam mendirikan perguruan tinggi seperti UGM, UNY, dan IAIN.
Selain perguruan tinnggi tersebut, beliau juga mendirikan Sekolah Rakyat (sekarang sudah menjadi SD Puro Pakulaman) dan SMP Puro Pakulaman.
Pada tanggal 6 Juni 1979 berdiri Yayasan Notokusomo yang dimana Yayasan ini, Paku Alam VIII meresmikan Akademi Adminstrasi Negara dan Akademi Keperawatan Notokusomo.
Selain Paku Alam, ada empat tokoh lainnya yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional seperti H.R Soeharto (Jawa tengah), R Rubini Natawisastra (Kalimantan Barat), Salahuddin bin Talabuddin (Maluku Utara), Ahmad Sanusi (Jawa Barat).
Alasan Penganugerahan Gelar Pahlawan
Atas dedikasinya tersebut, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Paku Alam VIII.
“Alasan Paku Alam mendapat gelar Pahlawan Nasional di tahun 2022 ini karena beberapa jasa almarhum yang mengintegrasikan diri pada awal kemerdekaan Republik Indonesia hingga NKRI utuh sampai sekarang ini,” ungkapnya.
“Sehari sesudah kemerdekaan, beliau menyatakan bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan kemudian Yogyakarta menjadi ibu Kota yang kedua dari Republik ketika terjadi agresi Belanda pada tahun 1946,” pungkasnya. (Asri)














