KabarMakassar.com — Jelang libur panjang, nilai tukar rupiah dibuka melemah atas dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu (13/05).
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengalami depresiasi sebanyak 0,06 persen ke level Rp17.500 per dolar AS.
Adanya pelemahan itu disebabkan pada penutupan perdagangan lalu, dimana rupiah mengalami koreksi tajam sebesar 0,49 persen ke posisi Rp17.490 per dolar AS.
Level itu merupakan posisi penutupan terlemah rupiah sepanjang masa. Sedangkan, indeks dolar AS (DXY) mengalami pergerakan yang stabil pada level 98,312 pada 10.00 WITA, usai perdagangan lalu menguat sebesar 0,35 persen ke posisi 98,298.
Sentimen negatif masih mendominasi pergerakan rupiah saat ini, dimulai dari pasar modal, dimana MSCI melaporkan hasil review indeks global periode Mei 2026.
Dari pengumuman MSCI, Indonesia mendapat tekanan tinggi usai enam saham domestik dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index.
Sedangkan, tidak ada saham baru Indonesia yang masuk kedalam indeks itu. Pada MSCI Global Small Cap Indexes ada satu saham Indonesia yang masuk, akan tetapi ada 13 saham Indonesia yang dikeluarkan dari indeks small cap MSCI.
Nantinya, seluruh perubahan itu bakal berlaku secara efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei mendatang.
Dengan kondisi yang terjadi memantik tekanan di pasar saham domestik. Apabila diikuti oleh aksi keluar investor asing maka tekanan atas rupiah turut berisiko meningkat karena kebutuhan konversi dana asing ke dolar AS mampu bertambah.
Tekanan lain juga turut datang dari dinamika dolar AS di pasar global, dimana dolar AS menuju level tertinggi dalam sepekan seiring memburuknya sentimen risiko usai data inflasi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Tak hanya itu, harga minyak turut mengalami kenaikan imbas dari ketidakpastian atas konflik global yang terjadi.
Saat ini pasar kian ragu atas proyeksi penurunan suku bunga bank sentral AS tahun ini imbas kombinasi dari inflasi AS harga minyak yang melonjak serta ketidakpastian geopolitik.














