KabarMakassar.com — Berbagai spekulasi mulai bermunculan jelang perhelatan event Off Road Bhayangkara di kawasan Agrowisata Bontolojong, Desa Ujung Bulu, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan.
Spekulasi ini muncul ketika Bupati H. Paris Yasir tak hadir dalam kunjungan Wakil Direktur Lalu Lintas (Wadirlantas) Polda Sulsel, AKBP Amin Toha bersama dengan Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Sulsel, Adi Rasyid Ali ke Kabupaten Jeneponto.
Dalam agenda yang sudah ditentukan jadwalnya tersebut, kehadiran Wadirlantas hanya diterima langsung oleh Sekertaris Daerah (Sekda) M. Arifin Nur di Kantor Bupati Jeneponto pada 08 Juli 2025 lalu.
Hal ini kemudian mengindikasikan kurangnya keseriusan Pemerintah Kabupaten Jeneponto dalam mendukung kegiatan ini.
Padahal jika ditelisik kebelakang, Polda Sulsel sudah menyiapkan kegiatan ini secara matang melalui rapat agenda pemantapan yang dipimpin oleh Wakapolres Jeneponto, Kompol Sahabuddin bersama Kasat Lantas, Iptu Baharuddin dan panitia pelaksana pada 30 Juni 2025.
Keseriusan Polda Sulsel dalam menggelar acara tersebut di Kawasan Agrowisata Bontolojong ini semakin menonjol saat Panitia Pelaksana di undang ke Polda Sulsel.
Guna memantapkan seluruh agenda persiapan ini, Wadir Lantas Polda Sulsel, yang ingin secara langsung berdialog dengan Bupati ternyata gagal karena hanya bertemu dengan sekda.
Kurangnya bentuk perhatian Pemda terhadap rangkaian kegiatan HUT Bhayangkara ke-79 ini menimbulkan pertanyaan besar bagi Masyarakat terutama bagi pecinta otomotif di bidang off road. Termasuk kalangan aktivis, tak terkecuali Ketua Fraksi Revolusi Keadilan (FRK) Muh Alim Bahri.
Menurut Alim, ketidakhadiran Bupati dalam rapat koordinasi pemantapan antara Perwakilan Polda, IOF dan Pemerintah Daerah, diindikasikan bahwa Pemda cenderung kurang merespon terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Padahal kata dia, kegiatan ini sudah dipersiapkan sedemikian rupa karena akan dihadiri langsung oleh Kapolda Sulsel dan seluruh jajarannya.
“Saat tiba di Jeneponto, Wadirut Lantas Polda Sulsel hanya disambut oleh Sekda sementara Bupati tidak hadir sehingga hal ini menimbulkan spekulasi ketidakseriusan Pemerintah daerah dalam kegiatan ini,” kata Alim Bahri ke kabarmakassar.com, Rabu (16/7) malam.
Kondisi ini kian diperparah dengan munculnya sejumlah oknum yang mengklaim dirinya sebagai Tokoh Masyarakat dan seolah menolak kegiatan tersebut. Dimana statement itu termuat disalah satu media online yang berisikan opini penolakan tanpa data dan kajian yang jelas sehingga narasi yang mereka lontarkan sangat bertolak belakang dengan fakta yang sebenarnya.
Namun faktanya, kegiatan ini menjadi momentum yang tepat untuk memperkenalkan destinasi ini ke para pelancong dan kepada penggiat off road di Nusantara bahwa Agrowisata Bontolojong Rumbia memiliki arena off road yang ekstrim serta didukung dengan suasana keindahan alam yang eksentrik, ikonik dan cuaca yang dingin hingga mencapai -9⁰c, yang tentu tidak kalah bila dibandingkan dengan medan off road di Labuan Bajo, Kawah Candrimuka Jawah Tengah, Cikole Lembang di Jawa Barat, Gunung Bromo di Jawa Timur, dan Gunung Merapi di Jawa Tengah.
Dengan begitu, keindahan alam kawasan Agrowisata Bontolojong kedepan akan menjadi potensi sumber pendapatan yang bisa menyuplai pendapatan asli daerah Kabupaten Jeneponto di masa mendatang sehingga alasan-alasan dari oknum yang tak masuk akal ini tanpa dukungan kalibrasi data dan fakta objektif ini semakin memperkuat keyakinan bahwa isu penolakan kegiatan bergengsi tersebut kemungkinan besar dibekingi oleh campur tangan oknum elit penguasa lokal.
“Hal ini kemudian menimbulkan prasangka publik bahwa kemungkinan ada elit penguasa yang berkeinginan kuat menggagalkan event tersebut dan melakukan uploading manuver agar kegiatan ini tidak dilaksanakan di Agrowisata Bontolojong yang notabenenya sebagai salah satu destinasi wisata yang diandalkan Masyarakat Sulawesi Selatan,” tutur Alim.
Penolakan terhadap kegiatan dari rangkaian HUT Bhayangkara ke-79 ini menimbulkan pertanyaan di benak Masyarakat, khususnya, pecinta off road di Kabupaten Jeneponto. Padahal semestinya, kegiatan ini cukup berpotensi meningkatkan sektor UMKM. Terlebih lagi, meningkatkan sektor Pariwisata di Kabupaten Jeneponto.
Bukan tanpa alasan, Alim menyebut jika event off road yang dilaksanakan oleh komunitas IOF Sulsel di Kawasan Agrowisata Bontolojong ini sebelumnya terbilang sukses lantaran diikuti oleh berbagai peserta dari luar daerah maupun lokal.
Antusiasme ini membuktikan bahwa jalur ekstrim yang disuguhkan oleh Kawasan Agrowisata Bontolojong sangat dinantikan para pecinta otomotif, Khususnya, Masyarakat Kabupaten Jeneponto.
“Tentunya, kami menyatakan mendukung penuh acara ini dihelat di Kabupaten Jeneponto,” pungkas Alim.














