Oleh: Andi Dody May Putra Agustang (Dosen Pendidikan Sosiologi UNM dan Mahasiswa Program Doktoral Sosiologi UI).
KabarMakassar.com — Pada menit ke-106 menjadi batas tipis antara kemenangan dan kehilangan. Ferran Torres menyelesaikan serangan Spanyol dengan sebuah tendangan yang menembus gawang Emiliano Martínez. Stadion di East Rutherford, New Jersey, meledak dalam kegembiraan. Para pemain Spanyol berlari merayakan gol, sementara pemain-pemain Argentina berdiri dengan tubuh lelah dan wajah yang mulai menerima kenyataan.
Gol itu menjadi satu-satunya pembeda. Spanyol mengalahkan Argentina 1–0 melalui perpanjangan waktu dan meraih gelar Piala Dunia kedua dalam sejarah mereka. Kemenangan tersebut juga menegaskan kekuatan kolektif Spanyol, yang hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen.
Pada waktu yang bersamaan, ketika para pemain Spanyol merayakan gelar, perhatian dunia tidak hanya tertuju kepada sang pencetak gol. Banyak mata mencari Lionel Messi.
Pada usia 39 tahun, Messi kembali berdiri di panggung tertinggi sepak bola dunia. Empat tahun setelah membawa Argentina menjuarai Piala Dunia di Qatar, ia datang ke Amerika Utara sebagai kapten juara bertahan. Final melawan Spanyol menjadi kesempatan untuk mempertahankan gelar, sekaligus kemungkinan penampilan terakhirnya di Piala Dunia.
Akan tetapi, sepak bola tidak selalu menyediakan akhir bahagia bagi tokoh utamanya. Argentina kalah, sementara Messi harus berjalan meninggalkan lapangan tanpa trofi terakhir.
Final tersebut karena itu tidak cukup dibaca sebagai pertandingan antara Spanyol dan Argentina. Ia merupakan pertemuan dua zaman. Di satu sisi berdiri Messi, simbol generasi sepak bola yang tumbuh dan hidup dalam bayang-bayang kebesarannya selama hampir dua dekade. Di sisi lain hadir Spanyol dengan regenerasi, kekuatan sistem, dan generasi muda yang mulai mengambil alih panggung.
Satu gol memisahkan dua kesebelasan. Namun, gol tersebut juga seperti garis yang menghubungkan masa lalu dan masa depan sepak bola.
Ketika Sang Raja Menyerahkan Mahkota
Lionel Messi telah lama menjadi lebih dari sekadar pemain sepak bola. Namanya melampaui Barcelona, Argentina, Liga Spanyol, dan berbagai kompetisi yang pernah dimenangkannya. Ia berkembang menjadi ikon budaya global.
Banyak anak mulai bermain sepak bola karena meniru cara Messi menggiring bola. Banyak orang mengenal Barcelona melalui nomor punggung sepuluh yang pernah dikenakannya. Tidak sedikit pula orang mendukung Argentina, bukan karena memiliki hubungan dengan negara tersebut, melainkan karena ingin melihat Messi menang. Saat itulah seorang atlet berubah menjadi simbol.
Roland Barthes, melalui Mythologies, menjelaskan bagaimana masyarakat modern membentuk mitos melalui tokoh, benda, atau peristiwa yang diberi makna lebih besar daripada bentuk aslinya. Mitos dalam pengertian ini bukanlah kebohongan. Ia merupakan cara masyarakat menitipkan harapan, kekaguman, dan imajinasinya kepada sosok tertentu.
Messi telah menjadi mitos modern dalam sepak bola. Tubuhnya yang tidak terlalu besar justru memperkuat cerita mengenai dirinya. Ia menunjukkan bahwa kejeniusan tidak selalu hadir melalui tubuh paling tinggi, suara paling keras, atau penampilan paling menakutkan. Permainannya tampak sederhana, tetapi nyaris mustahil ditiru.
Ketika Messi mencetak gol, penonton tidak hanya melihat bola melewati garis gawang. Mereka melihat bakat, ketekunan, harapan, dan kemenangan manusia atas keterbatasan. Ketika ia kalah, kekecewaan yang muncul juga terasa lebih besar daripada kekalahan sebuah tim.
Piala Dunia memperkuat hubungan emosional tersebut karena turnamen ini menyerupai ritual global. Jutaan orang di berbagai negara mengenakan seragam yang sama, meneriakkan nama yang sama, dan menunggu satu bola masuk ke gawang. Stadion, rumah, warung kopi, kafe, dan layar telepon berubah menjadi ruang bersama tempat emosi diproduksi secara serentak.
Emile Durkheim menjelaskan bahwa ritual kolektif dapat melahirkan energi sosial yang membuat individu merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Final Piala Dunia bekerja dengan cara serupa. Orang-orang yang tidak pernah saling mengenal dapat bersorak, berpelukan, menangis, atau kecewa pada waktu yang sama.
Messi berada di pusat ritual tersebut. Ia tidak hanya membawa harapan masyarakat Argentina, tetapi juga nostalgia satu generasi.
Mereka yang masih anak-anak ketika Messi mulai bersinar di Barcelona kini telah menjadi orang dewasa. Sebagian telah bekerja, menikah, dan memiliki anak. Kehidupan mereka terus berubah, tetapi selama bertahun-tahun Messi seolah tetap berada di lapangan, terus bermain dan memberikan kesan bahwa beberapa hal tidak akan pernah berakhir.
Karena itu, kemungkinan perpisahannya terasa personal. Yang meninggalkan lapangan bukan hanya seorang pemain. Sebagian penonton seperti sedang melihat masa mudanya sendiri berjalan menjauh.
Dalam olahraga, waktu merupakan lawan yang tidak mungkin dikalahkan. Seorang pemain dapat melewati bek, mengatasi tekanan, bangkit dari cedera, dan menghadapi kritik. Namun, waktu tidak perlu melakukan tekel untuk menang. Ia hanya bergerak perlahan, mengurangi kecepatan, memperpanjang pemulihan, dan mengingatkan tubuh bahwa setiap perjalanan mempunyai batas.
Kekalahan pada final 2026 tidak mengurangi kebesaran Messi. Warisannya tidak ditentukan oleh satu pertandingan terakhir. Ia telah memenangkan Piala Dunia, Copa América, Liga Champions, berbagai gelar liga, serta penghargaan individual. Lebih dari itu, ia telah menciptakan ikatan emosional dengan jutaan orang yang tumbuh bersama permainannya.
Legenda tidak selalu dikenang karena menutup perjalanan dengan kemenangan. Legenda dikenang karena membuat sebuah generasi merasa beruntung pernah menyaksikannya bermain.
Mahkota Messi tidak lagi bergantung pada trofi. Mahkota itu telah tersimpan dalam ingatan kolektif.
Sepak Bola Setelah Messi
Setiap kali tokoh besar mendekati akhir perjalanan, muncul ketakutan bahwa dunia yang ditinggalkannya akan kehilangan cahaya. Dalam sepak bola, pertanyaan itu terus berulang: apa yang akan terjadi setelah Messi dan Cristiano Ronaldo tidak lagi menjadi pusat permainan?
Pertanyaan tersebut dapat dimengerti. Selama bertahun-tahun, sepak bola dunia tumbuh melalui persaingan keduanya. Pertandingan Barcelona dan Real Madrid, penghargaan pemain terbaik, jumlah gol, iklan, media sosial, hingga perdebatan di warung kopi hampir selalu kembali kepada dua nama tersebut.
Namun, sepak bola tidak pernah berhenti bersama satu pemain. Permainan ini memiliki kemampuan untuk terus melahirkan cerita dan pahlawan baru.
Karl Mannheim melihat generasi bukan sekadar sekelompok manusia yang lahir pada masa yang sama. Generasi dibentuk oleh pengalaman sejarah bersama. Setiap generasi membawa cara berpikir, bahasa, dan imajinasi yang berbeda. Dalam sepak bola, pergantian generasi juga mengubah cara bermain, berlatih, berkomunikasi, dan menghadapi tekanan publik.
Generasi Messi tumbuh ketika televisi global dan internet memperluas pasar sepak bola. Generasi berikutnya lahir di tengah media sosial, analisis data, video pendek, akademi modern, dan sorotan yang berlangsung tanpa henti. Pemain muda sekarang tidak hanya bertanding selama 90 menit. Mereka juga hidup dalam statistik, komentar, potongan video, dan penilaian publik yang tidak pernah tidur.
Spanyol menjadi simbol kuat perubahan tersebut. Kemenangan mereka bukan sekadar hasil satu tendangan Ferran Torres. Gelar itu lahir dari kesabaran, organisasi permainan, kedalaman skuad, dan pertahanan yang sangat kuat. Meski turnamen dipenuhi pemain-pemain bintang, Spanyol keluar sebagai juara melalui kekuatan tim.
Di dalam tim itu terdapat Lamine Yamal, salah satu wajah generasi baru sepak bola. Kehadirannya dalam final yang juga dimainkan Messi melahirkan simbol yang kuat: seorang legenda yang mendekati akhir perjalanan berhadapan dengan pemain muda yang baru mulai menuliskan sejarah.
Namun, menyebut Yamal sebagai “Messi baru” justru berisiko merampas haknya untuk menjadi dirinya sendiri. Generasi baru tidak harus hidup sebagai salinan generasi lama. Yamal tidak perlu menjadi Messi, sebagaimana pemain muda lain tidak harus menjadi Pele, Maradona, atau Ronaldo. Karena pada dasarnya setiap generasi membutuhkan ruang untuk menciptakan bentuknya sendiri.
Kemenangan Spanyol juga menunjukkan bahwa regenerasi tidak terjadi secara otomatis. Pemain senior tidak sekadar pergi, kemudian pemain muda datang menggantikannya. Regenerasi membutuhkan akademi, pelatih, kompetisi usia muda, kesempatan bermain, dan keberanian memberikan tanggung jawab kepada pemain baru.
Lebih penting lagi, regenerasi memerlukan budaya sepak bola yang tidak menggantungkan seluruh harapan kepada satu individu.
Argentina selama bertahun-tahun hidup bersama ketergantungan simbolik kepada Messi. Ketika menang, Messi dipuja sebagai pusat keberhasilan. Ketika kalah, ia sering memikul beban paling besar. Pemujaan terhadap individu memang dapat menyatukan tim dan pendukung. Namun, ia juga dapat membuat keseluruhan sistem seolah-olah hanya berdiri di atas satu nama.
Spanyol menawarkan gambaran yang berbeda. Torres mencetak gol kemenangan, tetapi gelar tersebut bukan hanya miliknya. Ada Rodri, Lamine Yamal, Nico Williams, Pedri, Unai Simón, dan pemain-pemain lain yang bekerja dalam struktur kolektif. Kemenangan mereka tidak mempunyai pemilik tunggal.
Inilah salah satu kemungkinan wajah sepak bola setelah Messi. Perhatian tidak lagi terkonsentrasi pada dua manusia super. Panggung akan diisi lebih banyak pemain, negara, gaya permainan, dan cerita.
Bagi sebagian orang, zaman baru ini mungkin terasa kurang megah karena tidak memiliki rivalitas sebesar Messi dan Ronaldo. Namun, ia juga dapat membuka jalan bagi sepak bola yang lebih beragam. Lebih banyak pemain memiliki kesempatan menjadi pusat cerita, meskipun mungkin tidak selama para pendahulunya.
Tentu, sepak bola setelah Messi tidak otomatis menjadi lebih baik. Ia hanya akan menjadi berbeda. Permainan mungkin semakin cepat, ilmiah, dan global. Namun, sepak bola juga berisiko semakin mahal, semakin dikendalikan industri hiburan, dan semakin jauh dari masyarakat yang selama ini menghidupkannya.
Karena itu, tantangan generasi baru bukan hanya mencetak gol dan memenangkan trofi. Mereka juga harus menjaga hubungan sepak bola dengan pendukungnya. Tanpa suporter, stadion hanyalah bangunan besar dengan lapangan rumput. Tanpa cerita dan ingatan, gol hanya menjadi bola yang melewati garis.
Messi mungkin meninggalkan Piala Dunia tanpa trofi terakhir. Namun, ia tidak pergi tanpa warisan. Cara bermainnya akan tetap hidup dalam rekaman pertandingan, imajinasi pemain muda, perdebatan suporter, dan cerita orang tua kepada anak-anak mereka.
Sementara itu, Spanyol pulang membawa gelar dunia kedua. Para pemain mudanya mulai menulis bab mereka sendiri. Anak-anak yang menyaksikan final 2026 mungkin kelak akan mengenang Yamal, Torres, atau pemain lain sebagaimana generasi sebelumnya mengenang Messi.
Memang begitu sepak bola bergerak. Ia tidak meminta kita melupakan pahlawan lama untuk menyambut yang baru. Ia menyediakan ruang bagi keduanya.
Satu gol memisahkan Spanyol dan Argentina. Namun, satu gol itu juga menghubungkan dua zaman: zaman Messi yang akan terus dikenang dan zaman baru yang baru saja dimulai.
