Oleh: Ahmad Subair (Mahasiswa Doktoral Ilmu Sejarah UI)
KabarMakassar.com – Senin pagi, dengan cuaca yang cukup cerah tapi tidak dengan jiwa yang sepi ala Band Peterpan. Saya berkunjung ke Perpustakaan Universitas Indonesia, dijuluki sebagai Crystal of Knowledge yang merupakan salah satu perpustakaan kampus terbesar di Asia Tenggara, warisan megah di periode kepemimpinan rektor Universitas Indonesia Prof Gumilar di rentang 2007-2012.
Kebetulan siang itu tidak ada kuliah, mencoba menyusuri beberapa susunan rak demi rak perpustakaan.
Mata saya lalu tertuju pada satu disertasi sejarah, dari tampilan judulnya, nampaknya sangat kuat dan cukup menarik perhatian saya. Disertasi itu berjudul “Dinamika pemikiran dan kebijakan ekonomi Indonesia” sebuah masterpiece Yang di tulis oleh Femmy roeslan di tahun 2022 saat menyelesaikan doktoralnya di departemen ilmu sejarah UI.
Disertasi tersebut berusaha mengungkap perjalanan ekonomi bangsa ini yang kerap berganti-ganti kebijakan. Dimulai dari masa VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang menganut mazhab mérkantilisme (1509-1799). Periode ini dikenal dengan kekuatan ekonomi yang bertumpu pada monopoli pasar. Karena sifatnya yang sangat exploitative, maka periode ini dikenal dengan masa penjajahan kolonialisme.
Setelah bertahan hampir tiga abad sistem ini akhirnya runtuh di penghujung desember 1799, disebabkan oleh banyaknya korupsi yang dilakukan oleh para pejabatnya. Sebagai pelanjutnya Selanjutnya pemerintah Hindia-Belanda (1930) mengadopsi sistem klasik/liberal dengan ciri tanam paksa (culture stelsel). Ciri khas periode ini adalah penerimaan modal asing secara berlebihan dan munculnya konversi tanaman pangan (subsisten) menjadi tanaman ekspor. Pada masa inilah kemudian masyarakat indonesia mengenal tanaman seperti Teh, kopi, dan Tebu. Sistem ini bertahan hingga tahun 1945 ketika belanda mengalami kekalahan besar di asia.
Memasuki awal kemerdekaan di tengah situasi krisis, Indonesia kemudian memilih sistem demokrasi liberal dengan mengadopsi sistem ekonomi Keynesian yang economic minded (Muhammad Hatta, Sumitro Djojohadikusumo, Sjafruddin Prawira negara) periode ini tidak berjalan lancar karena pergantian kabinet yang sering terjadi. Akhirnya masyarakat lebih sering kecewa karena kesejahteraan tak kunjung datang sementara negara sudah merdeka.
Babak selanjutnya dikenal dengan sistem Ekonomi terpimpin(1959-1967), dimana kekuasaan eksekutif kembali ke tangan presiden Sukarno. Masa ini lebih dekat dengan marxis/ sosialis. Intervensi negara sangat kuat berakibat pada kontrol negara dan penolakan terhadap modal asing sebagai ciri utamanya. Nasionalisasi perusahaan asing kerap terjadi di wilayah Indonesia. Efeknya indonesia pernah mengalami inflasi extream sebesar 600%. Sistem ini berakhir setelah berakhirnya pemerintahan Sukarno.
Suharto kemudian berkuasa dengan kudeta merangkak (Subanrio: 1968) dan mengubah sistem ekonomi Marxis/ Sosialis menjadi sistem Neliberal/ Keynesian, sebuah sistem yang sangat terbuka terhadap investor. Pada masa ini kemudian di terbitkan Undang-Undang penanaman modal asing (PMA) No.1 tahun 1967 yang menjadi tanda bahwa indonesia memasuki pasar bebas. Walau menganut pasar bebas, Indonesia masih sering terpancing masuk ke-dalam praktik kontrol pasar, seperti pengendalian cengkih, penerimaan hasil penjualan minyak dalam satu pintu. Ujung-ujungnya menjadi ladang korupsi hinga akumulasi terhadap keruntuhan orde baru.
Memasuki masa reformasi, pendekatan ekonomi indonesia lebih dekat pada model Neoliberal, yang sangat concern pada pertumbuhan ekonomi agar daya beli meningkat di banding dengan memberi subsidi agar daya beli terjaga. Walau subsidi masih sering menjadi andalan ketika terjadi gejolak harga pasar. Model ini membiarkan pasar berkembang sesuai dengan hukum dasarnya.
Namun sebaliknya, di bawah pemerintahan Prabowo, pemerintah mengusung program prioritas seperti MBG, Koperasi Desa Merah-Putih, Sekolah Rakyat, yang oleh pendukungnya disebut sosialisme Prabowo. Hal ini menarik karena pendekatan yang dipilih Prabowo dengan menkeu-nya Purbaya menerapkan efisiensi ketat. Hal ini dilakukan agar program “sosialisme” tersebut dapat dijalankan.
Diatas kertas program prioritas pemerintah sejalan dengan pandangan Keynesian yaitu subsidi sebagai instrumen stabilitas ekonomi dan sosial. Pandangan ini juga mendukung bahwa belanja pemerintah akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat, Tapi yang lebih menarik pasar seolah melawan kehendak pemerintah dengan tertekan-nya rupiah ke 17.640 per dollar US, dan IHSG merah ke angka 1,70% (melemah ke 111,5 poin) ke level 6.429,88 (14 september 2026, pukul 12.00).
Setelah cukup puas membaca di perpustakaan, dan perut juga mulai terasa perlu di isi kembali lambung tengahnya, ternyata hari sudah menjelang sore. Saya kemudian melipir ke kansas singkatan dari kantin sastra salah satu tempat ngumpul paling asyik di UI.
Sembari menikmati menu gado gado, dan membuka gawai saya, melintas di Instagram sebuah video reels bahwa baru saja presiden prabowo melantik Suahasil Nazara, seorang ekonom yang juga pernah mendampingi Sri Mulyani sebagai menteri keuangan sebelumnya, yang konon memiliki aliran ekonomi yang sama bernama mazhab neoliberal.
Dalam benak saya berkata: “apakah kebijakan ekonomi indonesia akan bergeser sedikit ke neoliberal meninggalkan sosialisme sesaat?”
Tapi sudahlah, pertanyaan itu biarlah mengendap di pikiran, sebab apapun sistemnya, toh gado-gado yang saya makan ini belum terindikasi akan mendapat subsidi dari pemerintah. Dan menu ini tetap saja menjadi salah satu dari dua pilihan saya di jaman awal kuliah dulu, kalo bukan gado-gado yang alternatif terselubung yah di goda-goda. Maklum, masa itu bukan hanya perut yang harus kenyang, tetapi hati juga kadang perlu diberi asupan kasih sayang.
Mungkin karena sedang teringat masa-masa itulah, tiba-tiba layar ponsel saya menyala. Sebuah video call masuk dari pujaan hati sah saya di kampung halaman bernama “Istri” sembari saya bertanya : “Gimana anak, Sehat?”













