KABARBUGIS.ID — Kudapan Pala Butung atau Pallu Butung ini merupakan kuliner khas Sulawesi. Sudah lama menu ini menjadi pangan bagi masyarakat khususnya suku bugis Pinrang, bahkan telah ditetapkan sebagai kuliner khas Sulawesi.
Kuliner ini, masyarakat Pinrang menyebutnya pala butung.
Pala butung, terdiri dari potongan pisang dengan paduan bubur tepung sebagai kuah, biasanya disertai bola-bola mutiara yang melegendaris, dipadukan santan kelapa, garam, dan gula pasir untuk penyedap rasa, serta daun pandan sebagai penyedap aroma.
Di bulan Ramadhan, pala butung cocok untuk menu berbuka puasa. Selain, pembuatannya tergolong mudah, juga bahan untuk kuliner ini gampang ditemukan karena berbahan baku lokal.
Pada era modern ini, pala butung atau pallu butung telah menjelma sebagai kuliner kaki lima, bahkan menjadi kuliner warung kudapan tertentu dengan banyak Varian misalnya pala butung yang dicampur dengan parutan es batu, sirup, bola-bola mutiara, dan masih banyak lagi Varian untuk Kuliner ini. Seperti kudapan sejenisnya, yakni pisang ijo termasuk salah satu Varian dari pala butung.
Munculnya banyak modifikasi atas kuliner ini, menjadikan pala butung termasuk menu menarik, khususnya bagi masyarakat Pinrang di bulan puasa ini.
Seperti Amar (19), salah seorang warga Pinrang, mengungkapkan kuliner ini cocok untuk menu buka puasa. Menurutnya, kudapan ini tambah nikmat jika ditambah parutan es batu dan sirup.
"Enak sekali itu pala butung untuk menu berbuka puasa. Apalagi kalau pake es batu dengan sirup DHT (sirup lokal khas Sulawesi-Selatan)," ungkap Amar, Selasa (06/04).
Kudapan atau Snack ini, komposisinya terdiri dari Pisang sebagai bahan baku, santan, tepung terigu/tepung beras, gula dan garam, daun pandan, serta air.
Disisi lain, pala butung memiliki cerita tersendiri sebagai menu khas masyarakat adat bugis Pinrang. Konon, pala butung sejak masa tahun 60-an, biasanya dihidangkan sebagai menu kudapan atau Snack bahkan makanan pokok dalam suatu kegiatan, seperti kegiatan berkebun, atau menjadi bekal saat dalam perjalanan.
Mia, juga salah seorang warga Pinrang mengungkapkan, bahwa Kudapan itu sudah menjadi makanan pokok di masanya, sekitar tahun 1968 silam.
"Pala butung sudah lama menjadi makanan khas nenek-nenek ta' dulu. Biasanya pala butung dibuat untuk bekal kalau mau berkebun," ujarnya menggunakan bahasa indonesia dengan logat lokal bugis.













