kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Dituding Tolak Wawancara dan Lempar HP Wartawan, Ketua Bawaslu Jeneponto Membantah

KabarSelatan.id — Pengumuman Hasil seleksi calon anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kecamatan di Kabupaten Jeneponto menuai beragam polemik.

Polemik itu muncul usai peserta mengikuti tes Computer Assisted Tes (CAT). Terkait hal Efesiensi waktu tes, masing-masing peserta diminta panitia untuk menyiapkan WiFi lantaran jaringan bermasalah serta perangkat komputer yang digunakan, seperti monitor dan mouse banyak yang bermasalah sehingga menimbulkan pertanyaaan bagi para peserta tes CAT.

Munculnya pertanyaan tersebut, sejumlah awak media online mendatangi Kantor Bawaslu Jeneponto untuk meminta keterangan.

Namun, saat meminta klarifikasi terkait hal itu, sikap arogansi pun diduga ditampakkan oleh Ketua Bawaslu Jeneponto, Syaiful.

Kaharuddin Kasim mengaku ketika itu ia bersama  Sulaeman Nai hendak wawancara dan menaruh handphonenya diatas meja tetapi saat proses wawancara dimulai handphonenya malah dilempar.

"Jangan direkam" ucap Syaiful ditirukan Kaharuddin Kasim saat didatangi diruang kerjanya, Selasa (18/10).

Atas sikap arogansi tersebut, membuat Kaharuddin Kasim geram.

"Kami tidak terima perlakuan tersebut karena niat kami hanya datang untuk   mengkonfirmasi seleksi CAT, yang diduga tidak transparan," ucap Kaharuddin Kasim.

"Kami juga menilai Ketua Bawaslu telah mencederai Undang-undang Pers Nomor 40 tahun 1999 karena menghalangi tugas Jurnalistik," tandasnya.

Bahkan, ia mengancam akan melaporkan kejadian ini kepada Pimpinan Bawaslu Provinsi.

"Kami selaku media meminta kepada pimpinan Bawaslu Provinsi dan Bawaslu RI untuk mencopot Ketua Bawaslu Jeneponto," tegas Kaharuddin Kasim.

Sementara itu Ketua Bawaslu Jeneponto, Syaiful langsung membantah hal tersebut.

"Saya lihat, saya bicara dia rekam. Bukan dilempar, saya cuman geser, tidak usah direkam, saya cuman bilang begitu kan," ucapnya kepada Kabarselatan.id, Selasa (18/10).

"Tidak benar itu, justru mereka yang arogan datang dikantor Bawaslu," sambungnya.

Menurutnya, kejadian itu bermula saat mereka sedang berada diruang tamu lalu kemudian mereka ribut.

"Kalau ada yang keberatan dengan hasil calon anggota Panwascam Kecamatan suruh isi form aduan permohonan informasi, setelah lama-lama saya minta masuk ke ruangan," tuturnya.

Justru saat berada diruangan, mereka menyerang kami dengan nada kasar.

"Kalau mereka mau melihat nilainya kan, ternyata sampai diruangan mereka marah-marah terus, kasar sekali caranya," akunya.

Dia juga mengungkapkan bahwa ia sengaja menolak diwawancarai lantaran kedatangan mereka statusnya bukan wartawan melainkan sebagai peserta. 

"Seandainya dia datang sebagai wartawan secara otomatis kami siap menjawab pertanyaan mereka namun yang saya ketahui mereka datang karena tercatat sebagai peserta,"cetusnya.

error: Content is protected !!