KabarMakassar.com — Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong menghadiri ibadah syukur memperingati 40 tahun wafat almarhum Johanes S. Palinggi yang digelar di Jemaat Buntu La’bo’, Lembang Buntu La’bo’, Kecamatan Sanggalangi’, Kamis (16/04).
Almarhum Johanes S. Palinggi dikenal sebagai ayahanda dari Jhon Natan Palinggi, seorang pebisnis nasional berdarah Toraja yang turut berkontribusi dalam berbagai aspek pembangunan daerah, termasuk dalam proses penyelesaian sengketa Lapangan Gembira Rantepao.
Dalam sambutannya, Bupati Frederik menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kontribusi Jhon Palinggi terhadap pembangunan daerah serta pelayanan kepada jemaat.
Ia menilai nilai-nilai kerja keras, keuletan, dan ketekunan yang ditunjukkan menjadi teladan bagi masyarakat, khususnya di wilayah Buntu La’bo’.
“Keteladanan yang ditunjukkan menjadi inspirasi bagi kita semua, khususnya dalam membangun daerah dan melayani masyarakat,” ujarnya.
Bupati juga berharap agar Jhon Palinggi senantiasa diberi kekuatan dan keberkahan dalam menjalankan perannya, serta terus berkontribusi bagi kemajuan Toraja Utara.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Jhon Palinggi membagikan pengalaman hidup serta prinsip yang dipegang teguh, yakni memuliakan Tuhan, menghormati orang tua, dan menghargai guru.
Ia juga menekankan pentingnya sikap rendah hati serta keyakinan bahwa nilai-nilai kehidupan yang baik akan membawa keberkahan.
“Saya percaya, jika kita menjaga hati dan nilai hidup, maka segala sesuatu akan mengikuti,” ungkapnya.
Ia turut menyampaikan rasa syukur atas didikan kedua orang tuanya, serta mengingatkan pesan moral, “Peliharalah hatimu, karena dari situlah terpancar kehidupan.”
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Badan Pekerja Sinode (BPS) Toraja Utara Pdt. Alfret Agui, para pendeta lintas denominasi, pastor, suster, serta unsur TNI/Polri. Acara juga dimeriahkan oleh penampilan musik angklung Eirene Jemaat Rantepao.
Sebagai bentuk kepedulian, Jhon Palinggi menyerahkan bantuan dana pembinaan sebesar Rp10 juta kepada kelompok musik angklung Eirene, serta dukungan Rp15 juta untuk kegiatan Pesparawi.
Kegiatan ini menjadi momentum refleksi atas nilai keteladanan, pengabdian, serta pentingnya kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.














