KabarMakassar.com — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan penurunan produksi jagung nasional pada Februari 2026.
Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen tercatat sebesar 1,77 juta ton, atau turun 4,91 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 1,86 juta ton.
Penurunan produksi ini sejalan dengan menyusutnya luas panen. BPS mencatat luas panen jagung pipilan pada Februari 2026 hanya mencapai 0,31 juta hektare, berkurang 0,02 juta hektare atau turun 7,02 persen dibanding Februari 2025 yang sebesar 0,33 juta hektare.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya tekanan pada sektor produksi jagung di awal tahun. Penyusutan area panen menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi penurunan total produksi secara nasional.
Meski demikian, BPS memproyeksikan adanya perbaikan pada periode berikutnya. Potensi luas panen jagung untuk periode Maret hingga Mei 2026 diperkirakan mencapai 0,68 juta hektare, lebih besar dibandingkan realisasi Februari.
Seiring dengan itu, potensi produksi jagung pipilan kering pada periode Maret–Mei 2026 diperkirakan menyentuh angka 3,80 juta ton. Proyeksi ini memberi sinyal adanya peluang pemulihan produksi dalam beberapa bulan ke depan.
Kendati prospek panen meningkat, penurunan yang terjadi pada Februari tetap menjadi perhatian, terutama dalam menjaga stabilitas pasokan jagung di dalam negeri. Fluktuasi produksi berpotensi berdampak pada rantai pasok, khususnya sektor pakan ternak.
BPS menegaskan bahwa perkembangan luas panen dan produksi pada bulan-bulan selanjutnya akan sangat menentukan kondisi pasokan jagung nasional sepanjang 2026, sekaligus menjadi indikator penting bagi pengendalian harga dan ketahanan pangan.














