KabarMakassar.com — Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu (03/09).
Berdasarkan data dari Refinitiv, pada pembukaan perdagangan hari ini, rupiah terdepresiasi sebanyak 0,21 persen di posisi Rp16.430/US$, usai penutupan perdagangan Selasa (02/09) kemarin, rupiah berhasil mencatatkan penguatan walau tipis sebanyak 0,09 persen di posisi Rp16.395 per dolar AS.
Pelemahan rupiah sendiri turut terjadi bersama dengan indeks dolar yang tercatat ikut mengalami penguatan. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 10.00 WITA terpantau kembali menguat 0,06 persen di level 98,45.
Pada penutupan perdagangan kemarin, DXY menujukkan penguatan signifikan sampai dengan 0,6 persen di level 98,34.
Diketahui, pergerakan nilai tukar rupiah hari ini diproyeksikan masih tertekan oleh penguatan indeks dolar AS. Tekanan ini terjadi seiring dengan meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar menjelang rilis data ekonomi penting dari AS yang dinilai akan sangat memengaruhi arah kebijakan moneter The Federal Reserve.
Fokus utama pasar saat ini tertuju kepada laporan ketenagakerjaan non-farm payrolls yang akan dirilis pada Jumat 5 September mendatang.
Sebelum itu, data lowongan kerja dan private payrolls akan terlebih dahulu diumumkan, memberikan gambaran awal atas kondisi pasar tenaga kerja AS yang menjadi acuan penting dalam penentuan suku bunga.
Sebagian besar pelaku pasar memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed sebesar 25 basis poin pada bulan ini mencapai 89 persen.
Ekspektasi ini didorong oleh prospek pelonggaran moneter jangka pendek di tengah kekhawatiran terhadap inflasi jangka panjang serta ketidakpastian pasar global, yang juga mendorong reli harga emas dan logam mulia lainnya.
Di dalam negeri, Bank Indonesia berkomitmen demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika sosial politik nasional. BI juga terus berupaya memperkuat posisi rupiah terhadap dolar AS melalui berbagai langkah stabilisasi yang terukur.












