kabarbursa.com
kabarbursa.com

Rupiah Berpotensi Menguat Hari Ini di Tengah Kenaikan Indeks Dolar

Mayoritas Mata Uang Asia Melemah, Rupiah Bertahan di Rp16.450 per Dolar AS
Ilustrasi Rupiah (Dok : KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Pada akhir perdagangan Senin (23/09) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah sebesar 0,37% ke posisi Rp15.206 per dolar AS. Penurunan ini mengikuti tren pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) dari Bank Indonesia, rupiah juga mencatatkan pelemahan sebesar 0,6% ke Rp15.191 per dolar AS.

Rupiah bukan satu-satunya mata uang yang tertekan. Di kawasan Asia, peso Filipina mengalami penurunan terdalam sebesar 0,55%, disusul oleh won Korea yang melemah 0,43%. Selain itu, dolar Taiwan, baht Thailand, yuan China, dan dolar Singapura juga mengalami pelemahan masing-masing sebesar 0,23%, 0,17%, 0,14%, dan 0,11%. Di sisi lain, yen Jepang, dolar Hong Kong, rupee India, dan ringgit Malaysia justru mengalami penguatan terhadap dolar AS.

Menurut data Bloomberg, rupiah mengalami pelemahan 55,5 poin atau sekitar 0,37% ke level Rp15.205 per USD, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp15.150. Sementara data dari Yahoo Finance mencatat pelemahan rupiah sebesar 0,34%, atau turun 51 poin, menjadi Rp15.195 per dolar AS.

Indeks dolar, yang mencerminkan pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia, mengalami kenaikan dan berada di level 101,07 pada akhir perdagangan Senin. Angka ini lebih tinggi dibandingkan posisi 100,72 pada akhir pekan lalu. Indeks dolar yang menguat ini sebagian besar didorong oleh rilis data ekonomi dan perkembangan kebijakan moneter dari Federal Reserve.

Seorang pengamat komoditas dan mata uang,Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah mengikuti tren mata uang regional yang juga tertekan terhadap dolar AS. Ia mengungkapkan bahwa aksi ambil untung (profit-taking) oleh investor menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penguatan dolar. Investor melihat bahwa posisi dolar AS sudah oversold setelah penurunan tajam pasca pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) minggu lalu.

Lukman juga memprediksi bahwa dolar AS kemungkinan besar akan melanjutkan rebound pada perdagangan berikutnya, sementara rupiah diperkirakan akan mengalami konsolidasi. Namun, kecenderungan pelemahan rupiah masih mungkin terjadi karena investor cenderung menunggu kepastian dari pidato Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, terkait arah kebijakan moneter AS.

Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, turut memberikan pandangan terkait pergerakan rupiah. Menurut Ibrahim, dari faktor domestik, rencana pemerintah untuk melakukan pengetatan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi masih dalam tahap pembahasan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa pelaksanaan pengetatan yang direncanakan pada 1 Oktober belum siap diterapkan. Pemerintah masih berupaya memastikan agar aturan tersebut lebih tepat sasaran dan adil bagi masyarakat.

Ibrahim memproyeksikan bahwa rupiah akan bergerak dalam rentang Rp15.200 hingga Rp15.280 per dolar AS pada hari-hari mendatang. Sementara itu, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah akan berada di kisaran Rp15.150 hingga Rp15.300 per dolar AS, mengingat sentimen global yang terus berfluktuasi.

Selain pengaruh dari dalam negeri, penguatan dolar AS juga dipengaruhi oleh kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral di berbagai negara. Dolar AS diprediksi terus menguat karena rilis data inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) yang diantisipasi oleh pasar. Data ini merupakan salah satu indikator inflasi yang paling diperhatikan oleh The Fed. Menurut proyeksi, inflasi PCE inti diperkirakan akan naik sebesar 0,2% bulan ke bulan, yang jika benar, akan membawa inflasi tahunan menjadi 2,7%.

The Fed telah menunjukkan sikap optimis terhadap prospek ekonomi AS, dengan memperkirakan terjadinya soft landing—penurunan ekonomi yang terukur tanpa memicu resesi. Meskipun demikian, pasar berjangka tetap memperkirakan adanya penurunan suku bunga sebesar 75 basis poin (bps) pada akhir tahun ini, dan hampir 200 bps pada akhir 2025. Para investor saat ini tengah menanti pengumuman resmi terkait suku bunga dari The Fed untuk memperjelas arah kebijakan moneter di masa depan.

Dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan penguatan dolar AS, investor diharapkan tetap waspada terhadap perkembangan global, termasuk pidato Jerome Powell dan rilis data inflasi PCE AS minggu ini, yang bisa memberikan sinyal kuat mengenai langkah-langkah moneter yang akan diambil oleh The Fed di masa mendatang.

error: Content is protected !!