KabarMakassar.com — Sejatinya ada momen panas saat berlangsungnya debat Capres pertama Pemilu 2024. Bertempat di kantor KPU RI yang disiarkan secara live tentunya disaksikan langsung oleh rakyat Indonesia.
Dimana para pendukung dari masing-masing capres-cawapres yang hadir dalam mengawali riuhnya acara debat Capres ketika momen panas adu argumen mulai berlangsung.
Velerina Daniel selaku moderator terus berupaya mengendalikan situasi dengan meminta semua yang hadir untuk tenang.
"Semua harap tenang, acara akan kita lanjutkan,"kata Velerina setiap kali terjadi riuh dari para pendukung yang hadir.
Situasi begitu riuh inilah yang dipicu oleh beberapa momen panas adu argumen antara ketiga Calon Presiden, Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo.
Dimana setidaknya ada 4 momen adu argumen yang dianggap "panas" saat debat Capres Pemilu 2024 pertama yang dirangkum KabarMakassar.com dari kanal YouTube KPU RI pada Selasa (12/12).
1. Saat Anies Baswedan Bicara Penguatan Demokrasi Terjadi sebuah momen ketika panelis Rudi Rohi pakar Ilmu politik Universitas Nusa Cendana Kupang mendapat bola sub tema Penguatan Demokrasi.
Kemudian sub tema tersebut disambung pertanyaan hasil pengambilan bola dari Susi Dwi Harijanti pakar Hukum Tata Negara Universitas Padjadjaran.
Pertanyaan disampaikan moderator Ardianto Wijaya kepada Anies Baswedan terkait mengembalikan kepercayaan publik kepada partai politik yang dinilai selalu rendah.
Anies memulai jawabannya dengan menyinggung soal proses demokrasi yang saat ini sedang terjadi terkait kepercayaan publik.
"Saya rasa tidak sekedar partai politik, rakyat tidak percaya dengan proses demokrasi yang saat ini terjadi," kata Anies.
Ia menambahkan tiga hal agar kepercayaan itu bisa pulih dengan adanya kebebasan berbicara, oposisi sebagai penyeimbang, dan Pilpres yang jujur.
Calon Presiden nomor urut 1 ini mengkritisi soal kebebasan berbicara, indeks demokrasi yang menurun, minimnya peran oposisi hingga soal biaya politik.
Sehingga, ia menyimpulkan bahwa kepercayaan publik terhadap partai politik harus dipenuhi dengan adanya reform pembiayaan partai politik yang transparan.
Giliran menanggapi jatuh pada Prabowo Subianto yang memanggil Anies Baswedan dengan sebutan Mas Anies.
"Mas Anies Mas Anies, saya berpendapat Mas Anies ini agak berlebihan, Mas Anies mengeluh tentang demokrasi ini dan itu, Mas Anies dipilih jadi Gubernur DKI menghadapi pemerintah yang berkuasa," kata Prabowo.
Kemudian Prabowo mengingatkan saat itu dialah yang mengusung Anies Baswedan sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta dan sukses menjadi Gubernur dengan demokrasi yang terjadi.
"Saya yang mengusung Bapak, kalau demokrasi kita tidak berjalan tidak mungkin Anda jadi Gubernur," tegasnya.
Prabowo masih ingat ketika menjadi pihak oposisi, Anies datang ke rumahnya dan sepakat diusung jadi Calon Gubernur kemudian terpilih.
Momen inilah yang membuat moderator nyaris saja menghentikan acara debat karena pendukung Prabowo terus bersorak-sorak.
"Mohon tenang para hadirin, apabila tidak tenang maka acara tidak dapat dilanjutkan," kata Velerina menenangkan suasana.
2. Saat Prabowo Siap Dihukum Rakyat Prabowo menyatakan siap dihukum rakyat dengan tidak memilihnya pada tanggal 14 Februari 2024 ketika Pilpres berlangsung.
Berawal dari kritikan Anies Baswedan soal fenomena Ordal (orang dalam) terjadi di pusat hingga daerah.
"Fenomena Ordal ini menyebalkan," kata Anies menyinggung pengangkatan guru yang awalnya membahas soal keputusan MK dengan pelanggaran etiknya.
Kemudian Prabowo menanggapi dengan statemen bahwa kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat, maka ia siap dihukum rakyat jika keliru.
"Mas Anies, dalam demokrasi kekuasaan tertinggi ada di rakyat, hakim yang tertinggi adalah rakyat, tanggal 14 Februari rakyat yang akan mengambil keputusan, kalau kami tidak bener, salah, berkhianat, rakyat yang akan menghukum kami," tegasnya.
3. Prabowo sebut Anies Salahkan Angin terkait Polusi Udara di Jakarta Bermula saat Anies menjelaskan berbagai solusi penanganan polusi yang dilakukan saat ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Menurut Anies, polusi udara di Jakarta terdeteksi karena adanya alat pendeteksi yang dipasang, sedangkan daerah lain tidak diketahui ada polusi udara karena tidak dideteksi dengan alat.
Selain itu, sumber polusi udara tidak hanya dari wilayah Jakarta saja, namun arah angin dari luar wilayah turut membawa masuk polusi ke Jakarta.
Penonton kembali riuh saat Prabowo sebut Anies selalu menyalahkan angin dan tidak perlu ada pemerintahan jika seperti itu.
"Kalau kita dengan gampang menyalahkan angin, hujan dan sebagainya, ya itu tidak perlu ada pemerintahan," kata Prabowo.
4. Saat Ganjar tanyakan Pengadilan HAM dan Kubur orang Hilang Giliran Ganjar berkesempatan bertanya ke Prabowo soal kepastian hukum dari rekomendasi DPR terkait pelanggaran HAM yang pernah terjadi. Disusul dengan pertanyaan apakah Prabowo dapat membantu para istri dari orang hilang korban pelanggaran HAM tersebut.
"Apakah Bapak akan membuat pengadilan HAM dan membereskan rekomendasi DPR? Pertanyaan kedua, di luar sana banyak menunggu ibu-ibu, apakah Bapak bisa membantu menemukan di mana kuburnya yang hilang agar mereka bisa berziarah," tanya Ganjar.
Pertanyaan tersebut direspon Prabowo yang menilainya sebagai pertanyaan tendensius yang selalu diungkit setiap 5 tahun sekali.
"Saya sudah menjawab berkali-kali ada rekam digitalnya, tiap lima tahun kalau poling saya naik ditanya lagi soal itu," jawab Prabowo.













