KabarMakassar.com — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Selatan, Yeni Rahman, memilih cara berbeda merayakan capaian akademiknya.
Di tengah tradisi ucapan selamat yang identik dengan karangan bunga, legislator Sulsel itu justru mengajak kolega dan kerabat mengirim tanaman hidup sebagai bentuk apresiasi.
Langkah tersebut dilakukan usai Yeni Rahman menuntaskan studi magister di Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM), Rabu (20/05).
Pilihan itu bukan sekadar simbolis, melainkan bentuk kampanye pengurangan sampah seremonial yang selama ini dinilai kerap menambah beban tempat pembuangan akhir (TPA) Tamangapa.
Menurut Yeni, karangan bunga konvensional hanya bertahan singkat sebelum berakhir menjadi sampah. Karena itu, ia mendorong kebiasaan yang dinilai lebih ramah lingkungan dan memiliki manfaat jangka panjang.
“Tanaman hidup jauh lebih bermanfaat karena bisa dirawat, memperindah lingkungan, dan punya nilai ekologis jangka panjang dibanding karangan bunga yang cepat menjadi sampah,” kata Yeni.
Ajakan tersebut mendapat respons luas. Area Pascasarjana UNM dipenuhi puluhan pot tanaman hias yang dikirim rekan, sahabat, hingga sejumlah pejabat sebagai ucapan selamat.
Momentum penyelesaian studi magister Yeni pun berubah menjadi sorotan publik, bukan hanya karena capaian akademiknya, tetapi juga pesan lingkungan yang dibawa. Di tengah meningkatnya isu pengelolaan sampah perkotaan, langkah sederhana itu dinilai menjadi contoh perubahan kebiasaan dalam kegiatan seremonial.
Selain menyelesaikan pendidikan strata dua, Yeni juga menuntaskan penelitian bertajuk Analisis Kompetensi Guru, Sarana Prasarana, serta Keterlibatan Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Siswa Inklusi di Sekolah Dasar Kota Makassar.
Namun, isu yang paling menyita perhatian justru kampanye gaya hidup minim sampah yang ia dorong lewat momen personal tersebut.
“Kalau ucapan selamat tetap bisa memberi manfaat setelah acara selesai, kenapa harus memilih sesuatu yang hanya bertahan sehari lalu jadi limbah,” ujarnya.
Inisiatif itu dinilai relevan dengan upaya mendorong kesadaran publik agar lebih selektif terhadap penggunaan material sekali pakai, termasuk dalam budaya seremoni yang selama ini dianggap lumrah.















