kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Modus Babysitter Jadi Celah Baru Kejahatan Seksual di Makassar

Modus Babysitter Jadi Celah Baru Kejahatan Seksual di Makassar
Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak DPPPA Sulsel, Meisy Papayungan (dok. Syamsi/KabarMakassar)

KabarMakassar.com — Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sulawesi Selatan menyoroti munculnya modus baru kejahatan seksual melalui tawaran pekerjaan babysitter di media sosial. Modus tersebut dinilai perlu diwaspadai karena menyasar perempuan muda dengan iming-iming pekerjaan dan gaji.

Hal itu mencuat setelah kasus dugaan pemerkosaan dan penyekapan terhadap seorang mahasiswi berinisial MA (21) di Makassar, Sulawesi Selatan. Korban diduga menjadi korban kekerasan seksual setelah menerima tawaran pekerjaan sebagai pengasuh anak dari pelaku bernama Feri Bin Dg Rumpa (33).

Pelaku diketahui menawarkan lowongan kerja babysitter kepada korban melalui media sosial. Mahasiswi asal Nunukan itu kemudian diminta datang ke Makassar dan tinggal sementara di rumah kontrakan yang disiapkan pelaku sebelum mulai bekerja.

Namun, korban justru dipekerjakan sebagai pekerja rumah tangga selama berada di lokasi tersebut. Setelah beberapa hari, korban diduga disekap dan diperkosa berulang kali oleh pelaku.

Kasus tersebut kini menjadi perhatian karena dinilai menunjukkan perkembangan modus kejahatan berbasis lowongan kerja online. DPPPA Sulsel menyebut tawaran pekerjaan babysitter selama ini belum banyak dicurigai masyarakat sehingga lebih mudah menjebak korban.

“Orang biasanya lebih hati-hati kalau tawarannya adalah pekerjaan jadi pelayan, waiters dan sebagainya, nah untuk menjadi babysitter kan mungkin belum dicurigain ya, karena modusnya belum banyak yang menawarkan pekerjaan itu,” ujar Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak DPPPA Sulsel, Meisy Papayungan, Rabu (20/05).

Menurut Meisy, pelaku kini memanfaatkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pekerjaan dengan menyebarkan lowongan palsu melalui media sosial. Perempuan muda, termasuk mahasiswa, disebut menjadi kelompok yang rentan menjadi sasaran.

“Apalagi kalau misalnya mahasiswa, harusnya punya kewaspadaan, harus tahu dulu siapa pemberi kerja, kemudian bagaimana pekerjaannya,” lanjutnya.

Meisy mengingatkan masyarakat untuk lebih kritis terhadap tawaran pekerjaan dengan gaji tinggi yang tidak disertai identitas perusahaan jelas. Masyarakat diminta melakukan pengecekan ulang sebelum menerima tawaran kerja dari media sosial.

“Nah kalau misalnya ada penawaran gaji yang agak di atas atau jauh lebih tinggi dari kenormalan, please tolong hati-hati, konfirmasi dulu, cross-check dulu,” tegasnya.

Selain penipuan kerja, Meisy juga menilai kasus tersebut juga memperlihatkan pola eksploitasi seksual yang kerap diawali pendekatan persuasif atau relasi yang tampak normal. Karena itu, masyarakat diminta lebih peka terhadap tanda-tanda awal kekerasan seksual.

“Umumnya kekerasan seksual itu tidak langsung, tidak tiba-tiba langsung nyosor, tapi ada langkah-langkahnya dulu, pendekatannya biasanya yang sangat samar,” pungkasnya.

Sementara itu, pelaku Feri Bin Dg Rumpa dilaporkan kini telah ditangkap aparat kepolisian di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, setelah sempat melarikan diri. Polisi masih mendalami kasus tersebut, termasuk kemungkinan adanya korban lain dengan modus serupa.

error: Content is protected !!