KabarMakassar.com — Kanada menjadi negara dengan realisasi penanaman modal asing (PMA) terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan pada Triwulan I Tahun 2026. Nilai investasi dari negara tersebut tercatat mencapai Rp1,008 triliun atau sekitar 44,14 persen dari total PMA Sulsel.
Total penanaman modal asing di Sulsel pada Triwulan I 2026 mencapai Rp2,285 triliun. Nilai tersebut menjadi bagian dari total realisasi investasi Sulsel sebesar Rp5,412 triliun pada awal tahun ini.
Selain Kanada, Australia juga menjadi salah satu investor utama di Sulsel. Investasi dari Australia tercatat mencapai Rp960 miliar dan menempati posisi kedua terbesar.
Singapura dan Hongkong turut masuk dalam daftar lima besar investor asing di Sulsel. Nilai investasi Singapura tercatat sebesar Rp112 miliar, sementara Hongkong mencapai Rp101 miliar.
Di urutan kelima, ada Republik Rakyat Tiongkok dengan nilai investasi mencapai Rp47 miliar.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Sulsel, Asrul Sani mengatakan realisasi investasi asing di Sulsel masih didominasi perusahaan yang telah lama beroperasi.
Sebagian besar investasi tersebut berupa pengembangan kapasitas produksi dan pembangunan fasilitas baru.
“Kalau berdasarkan realisasi ini, itu masih didominasi itu dari Kanada, yang PT Vale itu kan (dari) Kanada. Kemudian ada Australia, Singapura, Hongkong sama Republik Rakyat Tiongkok. Itu negara-negara lima besar yang berinvestasi di sulsel,” kata Asrul Sani, Senin (11/05/2026).
Ia menjelaskan investasi asing yang masuk saat ini mayoritas berasal dari proyek existing. Perusahaan yang telah beroperasi disebut mulai melakukan ekspansi untuk mendukung peningkatan produksi.
“Kalau kita lihat pergerakannya, itu sebenarnya masih investasi yang existing. Cuma memang mereka menambah kapasitas,” ujarnya.
Asrul menyebut Kabupaten Luwu dan Luwu Timur menjadi daerah yang paling banyak menerima investasi asing di Sulsel. Aktivitas investasi di wilayah tersebut didorong proyek pertambangan dan pembangunan industri pengolahan.
“Seperti yang ada di Luwu itu yang Masmindo yang akan menambah operasional, jadi ada konstruksi termasuk di Luwu Timur,” katanya.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga tengah mendorong pengembangan kawasan industri terintegrasi di Luwu Timur. Salah satu proyek yang dipacu adalah Indonesian Huali Industrial Park (IHIP) yang direncanakan menjadi kawasan ekonomi khusus.
Menurut Asrul, pengembangan kawasan industri menjadi langkah penting untuk menarik lebih banyak investasi asing ke Sulsel. Investor asing disebut cenderung memilih kawasan yang telah memiliki infrastruktur dan kepastian perizinan.
“Kecenderungannya investor asing itu kan tidak mau repot. Persoalannya kita kan selalu persoalan lahan,” ujarnya.
Ia mengatakan keberadaan kawasan industri akan mempermudah investor dalam proses pembangunan usaha. Infrastruktur seperti pasokan listrik, air baku, instalasi pengolahan limbah hingga kesesuaian tata ruang dinilai menjadi faktor utama menarik investasi.
“Nah kalau sudah ada kawasan industri kan sudah clear semua. Nah itu yang menjadi PR-nya kita yang harus kita dorong,” kata Asrul.
Selain memperkuat kawasan industri, Pemprov Sulsel juga terus mempromosikan potensi unggulan daerah kepada investor asing. Sektor perikanan, perkebunan, pertambangan hingga hilirisasi komoditas ekspor menjadi fokus promosi investasi.
Asrul menilai Sulawesi Selatan memiliki peluang besar meningkatkan investasi asing pada tahun ini. Pemerintah daerah menargetkan realisasi investasi Sulsel 2026 mencapai Rp22 triliun dengan dukungan pengembangan infrastruktur dan hilirisasi industri.
“Target investasi tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 22,580 tiriliun,” pungkasnya.














