KabarMakassar.com — Pembangunan Bendungan Jenelata di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa terus dipacu untuk mengejar target penyelesaian pada 2028 mendatang.
Namun, di balik ambisi besar proyek strategis nasional ini, persoalan pembebasan lahan masih menjadi hambatan utama, setidaknya 87 Persen Lahan untuk proyek Bendungan Jenelata belum dibebaskan.
“sisa pembebasan lahan mencapai 87 persen, percepatan koordinasi lintas sektor menjadi penentu keberhasilan proyek ini,” ujar Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang, Heriantono Waluyadi, Rabu (08/04).
Ia mengungkapkan progres pengadaan lahan hingga awal 2026 baru mencapai sekitar 13 persen dari total kebutuhan 1.800 hektare.
“Target kita tetap 2028 selesai dan langsung masuk tahap penggenangan. Tapi saat ini progres lahan memang masih 13 persen,” ujarnya.
Ia menegaskan, percepatan pembebasan lahan menjadi kunci agar pembangunan fisik bendungan bisa berjalan sesuai jadwal. Proses tersebut melibatkan banyak pihak karena sebagian lahan merupakan milik masyarakat.
Di sisi lain, proyek Bendungan Jenelata diproyeksikan membawa dampak besar bagi pengelolaan sumber daya air di wilayah Sungai Jeneberang. Bendungan ini akan melengkapi fungsi Bendungan Bili-Bili yang selama ini menjadi penopang utama.
“Kalau bendungan ini selesai, layanan irigasi bisa meningkat. Dari dua kali panen, kita dorong jadi tiga kali panen,” jelasnya.
Peningkatan tersebut diperkirakan akan berdampak pada sekitar 23 ribu hektare lahan pertanian. Selain memperkuat ketahanan pangan, produktivitas petani juga diharapkan ikut meningkat.
Tak hanya sektor pertanian, Bendungan Jenelata juga dirancang untuk menekan risiko banjir di wilayah hilir, termasuk Kota Makassar dan Kabupaten Gowa yang selama ini kerap terdampak luapan Sungai Jeneberang saat musim hujan.
“Reduksi banjir di wilayah hilir bisa berkurang signifikan jika bendungan ini berfungsi,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, menegaskan pemerintah daerah siap mengawal proyek tersebut agar rampung tepat waktu.
“Ini proyek strategis nasional, tentu kami akan kawal sampai tuntas 2028. Gowa sebagai daerah sumber harus merasakan manfaatnya,” katanya.
Ia juga berharap pembangunan bendungan tidak hanya berdampak pada irigasi dan pengendalian banjir.
“tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, termasuk pengembangan kawasan wisata berbasis air,” tukasnya.














