KabarMakassar.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Senin (02/03).
Hal tersebut seiring dengan respon pasar atas memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikar dan Israel ke Iran.
Berdasarkan data dari Refinitiv, rupiah mengalami depresiasi ke level Rp16.810 per dolar Amerika Serikat (AS) atau dengan melemah 0,30 persen.
Usai sebelumnya, pada perdagangan terakhir 27 Februari 2026, rupiah melemah ke level Rp16.760 per dolar Amerika Serikat atau melemah sebanyak 0,06 persen.
Tercatat, indeks dolar Amerika Serikat (DXY) pada pukul 10.00 WITA ada di zona hijau, naik ke level 97,821 atau menguat sebanyak 0,22 persen.
Diproyeksikan, pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini bakal dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan eksternal.
Dari internal, pelaku pasar tengah berfokus terhadap rilis data inflasi bulan Februari 2026 yang segera diumumkan oleh Badan Pusat Statistik.
Sedangkan, dari sisi eksternal, dolar Amerika Serikat menguat di tengah meningkatnya permintaan aset safe haven usai terjadi serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Kekhawatiran pasar global timbul disebabkan konflik itu, karena memiliki potensi untuk memperluas ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Terutamanya mengganggu lalu lintas maritim di kawasan Teluk yang dikenal memiliki minyak melimpah.
Bukan hanya itu, Iran juga melayangkan serangan atas aset-aset Amerika Serikat di beberapa negara sekitar, mulai dari Uni Emirat Arab hingga Suriah.
Hal itu mendorong pelaku pasar condong memburu aset berdenominasi dolar Amerika Serikat.
Dengan menguatnya indeks dolar, menandakan meningkatnya minat investor atas dolar Amerika Serikat, yang menyebabkan adanya tekanan pada mayoritas mata uang lainnya, tak terkecuali rupiah.














