KabarMakassar.com — Sektor jasa menjadi salah satu yang paling adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen di tengah pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang terus menjadi penggerak ekonomi nasional.
Tercatat dari 65 juta pelaku UMKM di Indonesia, kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) telah mencapai 61 persen, dan usaha barbershop menjadi salah satu subsektor yang ikut berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat, terutamanya generasi muda terhadap perawatan diri.
Dengan meningkatnya tren perawatan diri di kalangan pria, barbershop sudah tak lagi sekadar tempat cukur. Pelanggan kini menginginkan layanan yang cepat, nyaman, personal, serta fleksibel dalam hal pembayaran.
Odysen Barbershop kemudian melihat peluang dan memantapkan diri sebagai jaringan usaha lokal yang bertumbuh pesat dengan sentuhan personal dan adopsi teknologi yang tepat guna.
Bermula dari keinginan menambah penghasilan di luar pekerjaan tetap, maka Hendi Yusup dan Senapati memutuskan untuk membuka usaha kecil di tahun 2015.
Saat itu, mereka melihat belum banyak barbershop yang menawarkan variasi gaya rambut pria dengan harga terjangkau.
“Kalau minta potongan yang agak rumit, biasanya diarahkan ke salon wanita. Lebih mahal dan kadang tidak nyaman,” ucap Hendi pada Jumat (20/06).
Senapati dan Hendi melihat adanya kesempatan bisnis dengan menghadirkan barbershop dengan konsep kasual dan pelayanan konsultatif.
“Awal mula memulai kita ingin menghadirkan barbershop di mana pelanggan merasa nyaman dan bisa mengobrol dengan tukang cukurnya sehingga terbentuk chemistry,” tukas Hendi.
Tidak dapat dipungkiri untuk preferensi perawatan diri, laki-laki lebih mengutamakan kecocokan dan juga personal relationship.
“Kami juga ingin membangun hubungan yang akrab antara tukang cukur dan pelanggan. Karena bagi pria, potong rambut adalah soal kecocokan dan kepercayaan,” sambungnya.
Antarmuka yang ramah, operasional makin rapi bersama DANA Bisnis
Perjalanan mereka pun tidak selalu mulus. Salah satu tantangan yang ditemukan saat awal mula Odysen Barbershop yakni menentukan sistem operasional yang efektif dan efisien.
Transaksi masih dilakukan tunai, pencatatan masih manual, serta arus kas bergantung pada uang tunai di masing-masing kios. Risiko pun bermunculan mulai dari kesalahan perhitungan sampai dengan insiden keamanan.
“Kami pernah dirampok karena menyimpan banyak uang tunai. Belum lagi tukang cukur kami kesulitan mencatat transaksi,” tutur Hendi.
Berangkat dari tantangan tersebut maka Hendi dan Senapati menyadari adopsi pembayaran digital merupakan solusi dari situasi ini.
“Sebelumnya kami sempat mencoba mesin EDC (Electronic Data Capture), tapi kembali lagi, tidak semua pelanggan kami juga membawa kartu debit terlebih lagi kredit. Oleh karena itu, kami mencari solusi pembayaran yang ringkas dan dapat diakses oleh semua pelanggan,” imbuhnya.
Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, Hendi dan Senapati akhirnya memilih DANA Bisnis sebagai solusi.
Dengan satu QR code yang dapat diakses berbagai platform pembayaran digital, transaksi menjadi jauh lebih praktis.
“Tanpa mesin EDC, tanpa biaya tambahan. Praktis buat pelanggan, dan pencatatannya otomatis,” jelasnya.
Kini, seluruh transaksi dilakukan lewat DANA Bisnis. Cash flow lebih lancar, pencatatan real-time, dan pelaporan keuangan lebih rapi.
Sistem ini juga membantu mengurangi risiko pencatatan manual yang rawan lupa atau salah input, karena prosesnya kini lebih otomatis dan terpantau.
“User interfacenya juga simpel, jadi tukang cukur nggak bingung lagi kayak pas pakai EDC dulu,” tambahnya.
Selain itu, tantangan yang ditemukan adalah mencari tukang cukur berpengalaman. Setelah mencoba berbagai cara, mereka memutuskan membuka sekolah cukur sendiri.
Langkah ini bukan hanya menjawab kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM), tapi juga menjadi bagian dari standarisasi layanan. Kini, Odysen telah mengelola 15 cabang di Jabodetabek, didukung tim barber yang dilatih secara khusus.
Melihat perkembangan bisnis yang terus bertumbuh, Odysen Barbershop tengah bersiap untuk memperluas jaringan cabang dan menyempurnakan konsep layanan agar makin relevan bagi pasar Gen Z.
“Kami sedang berdiskusi untuk mengembangkan pendekatan yang lebih berorientasi pada loyalitas pelanggan, terutama generasi muda yang kini makin memperhatikan kenyamanan dan fleksibilitas dalam bertransaksi,” jelas Hendi.
Ke depan, Hendi juga berharap DANA dapat menghadirkan fitur pendukung lainnya yang membantu pelaku usaha kecil seperti Odysen untuk terus berkembang.
“Kalau ada fitur loan atau pembiayaan usaha di DANA, itu pasti akan sangat membantu kami dalam ekspansi,” terangnya.
“Digitalisasi membantu kami lebih efisien, meminimalkan salah pencatatan, dan mengurangi risiko kehilangan uang. Justru inilah cara paling praktis untuk berkembang di zaman sekarang,” lanjutnya.
Pesan sederhana namun berarti turut dibagikan Hendi kepada para pelaku UMKM yang tengah merintis.
“Jangan ragu untuk mulai mengadopsi layanan keuangan digital,” pungkasnya












