kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Makassar Gaungkan Revolusi Tiga Set Sampah di Sekolah

Tanggapi Kritik DPRD Makassar, Appi Siapkan Satgas Penertiban Lahan Publik
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, (Dok: Sinta KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Pemerintah Kota Makassar di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin mulai mempersiapkan sebuah lompatan besar dalam pengelolaan lingkungan hidup berbasis pendidikan.

Melalui program bertajuk Tiga Set Sampah, Pemkot berkomitmen menanamkan budaya memilah sampah sejak dini kepada siswa sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga menengah.

Munafri menegaskan bahwa perubahan perilaku terkait kebersihan lingkungan harus dimulai dari generasi muda. Langkah konkret yang akan ditempuh Pemkot adalah mewajibkan siswa membawa sampah dari rumah, baik organik maupun non-organik, untuk dipilah di sekolah setiap pagi.

“Kita ingin membentuk kebiasaan sejak kecil. Misalnya, anak-anak membawa sampah rumah tangga, seperti botol plastik, sisa makanan, atau kertas bekas. Semua akan dipilah bersama di sekolah, dengan panduan guru dan staf,” kata Munafri, Rabu (18/06).

Program Tiga Set Sampah merujuk pada sistem pemilahan menggunakan tiga tempat sampah berbeda untuk sampah organik, anorganik, dan limbah berbahaya (B3). Setiap sekolah akan dilengkapi dengan tiga tong sampah berwarna yang ditempatkan di titik-titik strategis seperti halaman, area kelas, dan kantor.

“Ini bukan sekadar urusan jumlah sampah, tapi soal edukasi kebiasaan memilah. Kita harus mulai dari ruang kelas agar kebiasaan ini ikut terbawa ke rumah dan lingkungan sekitar anak,” tegas Munafri.

Menurutnya, selama ini rendahnya kesadaran masyarakat membuang sampah pada tempatnya salah satunya disebabkan oleh minimnya edukasi sejak dini. Dengan menjadikan pemilahan sampah bagian dari aktivitas rutin sekolah, Pemkot berharap akan lahir generasi yang peduli lingkungan dan memiliki kesadaran ekologis.

Munafri juga menegaskan bahwa program ini tidak akan berhenti pada kegiatan simbolik. Sampah yang telah dipilah akan dimanfaatkan secara produktif. Sampah organik akan diolah menjadi kompos oleh sekolah atau mitra komunitas lingkungan, sedangkan sampah non-organik akan dikirim ke bank sampah untuk didaur ulang.

“Hasil olahan kompos nantinya bisa dimanfaatkan oleh komunitas urban farming. Jadi ada rantai manfaat dari kebiasaan kecil di sekolah sampai ke penguatan ketahanan pangan kota,” jelas Munafri.

Tak hanya fokus pada sistem pemilahan, program ini juga dirancang untuk mendorong pengurangan sampah plastik sekali pakai. Pemkot Makassar berencana mengintegrasikan pelatihan dan kampanye penggunaan bahan ramah lingkungan sebagai bagian dari kurikulum pembiasaan di sekolah.

“Kita akan siapkan launching serentak. Jadi bukan hanya satu-dua sekolah, tapi seluruh satuan pendidikan di Makassar ikut serta. Ini adalah gerakan kolektif,” ungkap Munafri.

Dia menambahkan, pihaknya juga telah menginstruksikan Dinas Pendidikan untuk segera menyusun modul pendukung dan membangun kerja sama lintas sektor agar ekosistem daur ulang berjalan optimal.

“Anak-anak tidak hanya datang untuk belajar matematika dan sains, tapi juga membawa semangat peduli lingkungan. Itulah yang kita tanamkan,” tutupnya.

error: Content is protected !!