KabarMakassar.com — Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mohamad Sohibul Iman, mengingatkan seluruh pejabat publik dan kader partainya untuk kembali meneguhkan niat pengabdian dalam menjalankan amanah kekuasaan.
Ia menegaskan bahwa jabatan publik bukan ruang untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan sarana untuk memperluas manfaat bagi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa seorang pejabat publik sejati tidak boleh menakar kebahagiaan dari besarnya harta atau fasilitas, melainkan dari banyaknya kebaikan yang dapat ia lakukan untuk rakyat.
“Kalau ingin kaya raya, jadilah pengusaha. Tapi kalau memilih jadi pejabat publik, maka ukur kebahagiaan dari seberapa besar kita bisa menolong masyarakat,” ujar Sohibul, Selasa (04/11).
Menurut Sohibul, kekuasaan dalam perspektif Islam bukanlah sarana untuk bertindak semena-mena, melainkan amanah yang menuntut kehati-hatian dan tanggung jawab moral tinggi.
“Makin besar kewenangan kita, makin sempit ruang privat kita. Seorang pejabat publik hidup di ruang yang terang benderang, setiap tindakannya diawasi publik. Jadi, tidak ada istilah ‘urusan pribadi’ bagi pejabat publik. Semua perilaku kita akan dikaitkan dengan jabatan yang kita emban,” tegasnya.
Ia menilai banyak pejabat saat ini yang keliru memaknai kekuasaan sebagai keleluasaan untuk bertindak seenaknya. Padahal, justru sebaliknya semakin besar jabatan, semakin sempit ruang untuk berbuat bebas.
“Sayangnya, banyak yang terbalik. Makin berkuasa, makin sewenang-wenang. Padahal pejabat publik yang beradab tidak boleh memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi,” ujarnya.
Sebagai contoh, ia menyinggung praktik tidak beretika seperti menekan kementerian atau pihak kampus untuk meluluskan anak sendiri, meskipun tidak memenuhi syarat akademik.
“Itu bukan adab pejabat publik. Kekuasaan bukan alat untuk memanjakan keluarga, tapi amanah untuk melayani masyarakat,” tegasnya.
Sohibul meminta agar seluruh pejabat publik dari PKS menanamkan kesadaran spiritual dan moralitas tinggi dalam setiap kebijakan yang mereka ambil. Ia mengingatkan, jabatan adalah ujian yang bisa menjerumuskan seseorang jika tidak disertai keikhlasan dan rasa cukup (qanaah).
“Negara sudah memikirkan apa yang layak bagi pejabat publik. Maka jangan ambil hak rakyat sekecil apa pun. Kalau Allah sudah memberikan cukup, syukurilah, karena di situlah keberkahan jabatan,” katanya.
Menurutnya, pejabat yang kehilangan kendali moral akan mudah tergelincir, bukan karena kurangnya ilmu, tetapi karena godaan dunia yang melemahkan hati.
Ia mengutip kisah dari QS. Ali Imran ayat 152 tentang Perang Uhud, di mana para sahabat Nabi tergelincir karena tergoda harta rampasan perang.
“Ayat ini mengingatkan kita bahwa bahkan sahabat Nabi bisa tergoda oleh dunia. Apalagi kita, generasi yang setiap hari diperlihatkan fasilitas dan kemewahan,” ucapnya.
Sohibul menegaskan bahwa menjadi pejabat publik harus dipahami sebagai ladang amal dan pengabdian sosial, bukan sebagai sumber kekuasaan atau status sosial.
“Kepuasan pejabat publik bukan pada kekayaan, tapi pada kemampuan menolong sesama. Ketika kita bisa membantu orang lapar, atau menolong warga yang sakit, di situlah kebahagiaan sejati,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun etos kerja berbasis empati dan pelayanan. Bagi kader PKS yang mendapat amanah di pemerintahan atau legislatif, Sohibul meminta agar tidak melupakan akar perjuangan partai yang berorientasi pada kepentingan umat.
“PKS tidak boleh kehilangan ruhnya. Kita bukan partai yang mengejar kekuasaan demi jabatan. Kita hadir untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dan nilai keadilan,” katanya dengan tegas.
Sohibul mengingatkan bahwa pejabat publik, terutama yang berasal dari partai dakwah seperti PKS, memiliki standar moral ganda: tanggung jawab kepada publik sekaligus kepada Allah.
“Kita ini pejabat publik sekaligus kader dakwah. Maka ukuran kita bukan hanya kinerja, tapi juga adab. Jangan sampai amanah jabatan justru menjadi jalan menuju kehancuran moral,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pejabat PKS untuk memperbanyak muhasabah (introspeksi diri) dan saling menasihati agar tidak terjerumus pada penyalahgunaan kekuasaan.
“Kita harus saling mengingatkan. Jangan merasa kebal atau istimewa. Di hadapan hukum Allah, kita semua sama. Yang membedakan hanya sejauh mana kita menjaga amanah dengan benar,” pesannya.
Sohibul Iman menegaskan bahwa kekuasaan sering kali menguji seseorang justru pada hal-hal kecil fasilitas, kemewahan, dan godaan dunia yang tampak sepele namun bisa menjerumuskan.
“Kita bisa saja jatuh bukan karena korupsi besar, tapi karena membiarkan diri tergoda oleh kenikmatan dunia yang bukan hak kita,” ujarnya.
Ia berharap seluruh pejabat publik PKS memiliki kesadaran spiritual tinggi dalam menjaga integritas, serta senantiasa merasa cukup atas apa yang diberikan negara.
“Mudah-mudahan Allah memberi kita rasa cukup, menjauhkan kita dari mengambil yang bukan hak, dan meridai jabatan yang kita emban sebagai jalan menuju surga,” pungkas Sohibul Iman.













