kabarbursa.com
kabarbursa.com

Armin Mustamin Nilai Isu Munaslub Golkar Wajar

Menanti Arah Angin DPP: Musda Golkar Sulsel di Ujung Aklamasi
Ilustrasi Partai Golkar, (Dok: Int).

KabarMakassar.com — Wacana Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar menguat di tengah dinamika politik nasional.

Politisi senior Partai Golkar asal Sulawesi Selatan, Armin Mustamin Toputiri, menilai rencana itu bukan hal yang mengejutkan, melainkan bagian dari tradisi panjang partai berlambang pohon beringin.

“Isu Munaslub itu lazim di Golkar. Tapi saya menduga ke depan akan makin marak, makin menguat. Karena arah pusaran politik nasional pun sedang berubah,” kata Armin, Sabtu (09/8).

Ia memandang, menguatnya dorongan Munaslub tidak terlepas dari perubahan situasi politik pasca-pemerintah menerbitkan abolisi terhadap Thomas Lembong dan amnesti bagi Hasto Kristiyanto. Menurutnya, langkah tersebut memberi sinyal adanya pergeseran peta kekuasaan yang secara langsung berpotensi memengaruhi dinamika internal Golkar.

Armin menilai keterpilihan Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Umum Golkar sendiri sejak awal tidak terlepas dari campur tangan kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa Bahlil naik lewat Munaslub yang dinilainya berlangsung dalam situasi “dipaksakan” sesuai selera penguasa saat itu.

“Itulah konsekuensi Golkar sebagai partai tanpa pemilik tunggal,” ujarnya.

Bagi Armin, sejarah panjang Golkar membuktikan posisi ketua umum kerap lahir dari kompromi antara elite partai dan penguasa negara, meski secara formal dipilih oleh pemilik suara. Kondisi itu membuat setiap perubahan arah kekuasaan negara memiliki potensi besar mengubah haluan partai.

“Golkar itu butuh kekuasaan, dan penguasa juga sangat butuh Golkar. Jadi kalau sekarang ada dorongan dari kekuasaan untuk Munaslub, ya itu bukan hal yang aneh dalam tradisi Golkar,” ungkap mantan anggota DPRD Sulsel dua periode tersebut.

Meski menganggap Munaslub sebagai hal wajar, Armin mengingatkan perlunya menjaga prinsip demokrasi internal. Ia menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan harus mempertimbangkan kepentingan partai dan rakyat, bukan semata menjadi arena perebutan kekuasaan elite.

“Saya kira Munaslub bukan sesuatu yang tabu. Tapi jangan sampai hanya jadi alat tarik-menarik kuasa elite. Harus ada pertimbangan matang demi masa depan Golkar ke depan,” tutupnya.

error: Content is protected !!