Oleh: Sitti Nurliani Khanazahrah, Penulis, Dosen dan Pegiat Filsafat
KabarMakassar.com — Hampir setiap hari tangan kita melepaskan sesuatu ke dalam tong sampah. Ada bungkus makanan, botol plastik bekas atau kertas yang tak lagi terpakai. Gerakan itu berlangsung begitu singkat bahkan nyaris tanpa pikir. Tetapi tepat pada detik ketika benda itu jatuh ke dasar wadah, ada sebuah keputusan sunyi yang baru saja kita ambil yaitu kita menganggap urusan dengan benda itu telah selesai.
Bungkusan makanan yang baru saja kita buang tidak lagi mengusik pikiran. Botol plastik yang terlepas dari genggaman seakan-akan putus hubungannya dengan tangan yang baru saja memegang. Sampah itu mendadak berpindah menjadi urusan orang lain yaitu petugas kebersihan yang melintas pagi hari, truk pengangkut yang bising atau tempat pembuangan akhir di pinggir kota yang tak pernah benar-benar kita datangi.
Pada titik inilah salah satu ilusi terbesar peradaban modern. Kita begitu percaya bahwa sesuatu yang telah dibuang adalah sesuatu yang telah hilang. Padahal, tidak ada yang benar-benar hilang dari muka bumi ini. Yang berubah hanyalah jaraknya dari mata kita.
Belakangan ini, Pemerintah Kota Makassar mulai menerapkan aturan yang meminta warga memilah sampah sejak dari rumah. Tanggapannya beraneka ragam. Ada yang menyambutnya dengan lega karena merindukan kota yang lebih tertata, ada pula yang ragu terhadap kesiapan armada pengangkut, fasilitas pengolahan, hingga ketegasan pemerintah sendiri. Perdebatan itu tentu saja wajar dan penting. Tetapi di antara riuh percakapan itu, saya merasa ada satu pertanyaan mendasar yang justru luput diajukan. Mengapa persoalan sampah hampir selalu kita bicarakan seolah-olah ia melulu masalah teknis?
Kita begitu sibuk berhitung soal jumlah truk, kapasitas penampungan, anggaran daerah bahkan sanksi bagi yang melanggar. Semua itu memang dibutuhkan. Tetapi sebelum sampai ke sana, bukankah ada pertanyaan yang lebih mendasar yang harus ditanyakan. Mengapa manusia menghasilkan sampah?
Kita mungkin akan refleks menjawab bahwa manusia menghasilkan sampah karena ia hidup, mengonsumsi makanan dan juga menggunakan segala benda-benda. Tetapi jawaban itu hanya menjelaskan alur fisiknya saja dan bukan maknanya. Sampah bukan pertama-tama tentang tumpukan barang bekas, tetapi sampah adalah cermin dari cara kita membangun hubungan dengan dunia di luar diri kita.
Ketika kita melangkah sejenak ke sebuah hutan, maka kita akan melihat daun-daun berguguran saban hari. Ranting patah berserakan di atas tanah dan pohon tua yang tumbang perlahan-lahan membusuk. Bangkai hewan yang mati dibongkar oleh serangga dan mikroorganisme, hingga akhirnya larut kembali menjadi bagian dari tanah yang subur. Tidak ada satu pun penghuni hutan yang menganggap benda-benda itu sebagai “sampah”.
Alam tidak mengenal kata sampah. Alam hanya mengenal alur perputaran dan perubahan bentuk. Sesuatu menjadi sampah bukan karena sifat alami benda itu mendadak rusak, tetapi karena hubungan kita dengannya telah terputus. Sebuah botol yang masih diisi air kita sebut sebagai barang yang berguna. Botol yang sama, tatkala airnya habis dan kita menganggapnya tak lagi memberi manfaat, mendadak menyandang nama baru yaitu sampah. Artinya, sampah tidak lahir dari bendanya sendiri, tetapi dari keputusan kita untuk berhenti memberi nilai pada benda tersebut.
Peradaban hari ini kerap dipuji karena kemampuannya memberikan beragam kemudahan. Kita bisa membeli apa saja dengan cepat, memakainya sebentar, lalu menggantinya dengan keluaran terbaru. Kecepatan memproduksi dan membuang bahkan dijadikan ukuran kemajuan ekonomi. Tetapi kemudahan itu menuntut harga yang tidak murah. Kemajuan melahirkan kemasan, kemasan menjadi limbah dan limbah membutuhkan tempat. Ketika ruang-ruang hidup kita mulai sesak, barulah kita menyebutnya sebagai krisis.
Masalah utamanya barangkali bukan sekadar karena kita terlalu banyak belanja atau menggunakan barang, tetapi karena kita membesarkan peradaban di atas sebuah keyakinan yang keliru yaitu akibat dari sebuah tindakan bisa dipisahkan dari tindakan itu sendiri. Kita ingin menikmati hasil konsumsi tetapi enggan berhadapan dengan sisanya. Kita mengambil manfaatnya lalu membuang konsekuensinya ke tempat yang jauh. Kita memang tidak benar-benar menyelesaikan masalah kita hanya menggeser letaknya.
Kata “peradaban” sering kali menghadirkan bayangan yang megah. Ada deretan gedung yang menjulang, teknologi yang makin pintar dan kemampuan manusia melipat jarak. Tetapi, apakah mutu sebuah peradaban hanya diukur dari apa yang berhasil diciptakannya, atau juga dari bagaimana ia bertanggung jawab atas apa yang ditinggalkannya?
Menciptakan sesuatu sering kali jauh lebih mudah daripada merawat akibatnya. Sejarah memperlihatkan kebiasaan yang sama bahwa setiap kali menemukan teknologi baru, kita tergesa-gesa merayakan kemudahannya sebelum sempat memikirkan dampaknya. Plastik membuat hidup jadi serba praktis, mesin mempercepat kerja dan kendaraan memperluas jelajah. Tetapi setelah berpuluh-puluh tahun berlalu, kita gagap berhadapan dengan limbah yang tak terurai, udara yang makin berat serta lingkungan yang tercemar. Peradaban modern sedang kesulitan bertanggung jawab atas keberhasilannya sendiri.
Pada titik inilah, sampah menyimpan cerita yang jauh lebih jernih daripada brosur-brosur kemajuan. Ia menjadi semacam catatan kaki yang sering diabaikan, padahal di sanalah watak sebuah masyarakat sebenarnya tercatat.
Banyak orang suka membandingkan kebiasaan kita dengan masyarakat di Jepang. Di sana, warga terbiasa membawa pulang sampah pribadi karena tempat sampah sulit ditemukan di jalanan umum. Anak-anak sekolah diajak membersihkan kelas dan toilet mereka sendiri sejak kecil. Memegang sapu atau kain lap tidak dipandang sebagai pekerjaan yang rendah, tetapi bagian dari pelajaran merawat ruang bersama.
Namun demikian, yang menarik perhatian saya bukanlah sekadar ketertiban itu, tetapi cara pandang di belakangnya. Di banyak tempat, ruang publik sering kita anggap sebagai “ruang milik pemerintah”. Karena merasa itu milik pemerintah, maka tanggung jawab atas kebersihannya ikut kita serahkan penuh kepada dinas kebersihan. Jalan yang kotor dipandang sebagai kelalaian petugas, sungai yang penuh plastik dianggap kegagalan walikota. Cara berpikir ini perlahan-lahan menciptakan jarak bahwa kota menjadi tempat yang sekadar kita tumpangi untuk beraktivitas tetapi tidak benar-benar kita cintai dan rawat.
Padahal, sebuah kota tidak pernah dibentuk hanya oleh aturan atau kerja para pejabatnya. Kota dibentuk setiap hari oleh kebiasaan warga yang mendiaminya. Bagaimana mereka mengantre, menyapa tetangga, merawat pohon di tepi jalan hingga di mana mereka meletakkan bungkus makanan setelah selesai dimakan. Peradaban pada akhirnya adalah gumpalan dari kebiasaan-kebiasaan remeh yang kita lakukan setiap hari tanpa merasa sedang membuat sejarah.
Oleh karena itu, ajakan memilah sampah di Makassar rasanya kurang tepat jika hanya dibaca sebagai imbauan kebersihan atau urusan administratif belakangan ini. Jika kita perhatikan lebih dalam, aturan itu sedang mengajukan sebuah pertanyaan moral yang senyap kepada kita masing-masing. Apakah kita masih mau menganggap sampah sebagai bagian dari tanggung jawab kita, bahkan ketika ia sudah tidak lagi memberi kita kegunaan?
Selama ini kita terlalu terbiasa melepaskan keterikatan. Kita memindahkan sampah ke luar pintu rumah lalu merasa urusan sudah selesai. Padahal, tanggung jawab tidak pernah ditentukan oleh seberapa jauh sebuah benda berada dari jangkauan pandangan mata. Ia ditentukan oleh kejujuran kita untuk mengakui bahwa benda itu ada karena pilihan dan tindakan kita sendiri.
Sesuatu menjadi sampah ketika kita memutuskannya tidak lagi bernilai. Cara berpikir seperti inilah yang menilai segala hal hanya dari sejauh mana ia memberi kita manfaat yang tanpa sadar telah mengendap jauh di dalam diri kita. Jika kita tidak bersikap waspada, cara pandang ini tidak hanya kita terapkan pada barang bekas, tetapi juga pada cara kita memandang sesama manusia.
Peradaban sering dipuji karena caranya memuliakan orang-orang yang produktif dan berhasil. Tetapi ukuran kemanusiaan yang lebih jujur justru terlihat dari bagaimana sebuah masyarakat memperlakukan mereka yang tidak lagi memberikan keuntungan material. Para orang tua yang tubuhnya mulai renta, warga dengan kebutuhan khusus yang membutuhkan fasilitas lebih, atau saudara-saudara kita yang kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan. Mereka tidak pernah kehilangan martabatnya sebagai manusia, tetapi kebiasaan hidup yang serba terburu-buru kerap membuat kita berhenti melihat nilainya.
Pola ini terasa menggetarkan karena kemiripannya. Kita cenderung menjaga apa yang berguna dan perlahan menyingkirkan atau melupakan apa yang tak lagi memberi kita keuntungan. Cara kita melepaskan bungkus makanan di jalanan ternyata memantulkan cara berpikir kita dalam memandang sesama.
Krisis tersembunyi kita hari ini mungkin bukanlah krisis produksi, tetapi krisis kesetiaan. Kita dibesarkan dalam suasana yang makin mahir membeli dan mengganti, tetapi makin kurang sabar dalam merawat. Kita terbiasa mencari yang baru tetapi kehilangan ketelatenan untuk memperbaiki apa yang rusak.
Memilah sampah dari dapur rumah sesungguhnya bukan sekadar urusan kebersihan lingkungan. Ia adalah sebuah latihan batin. Sebuah latihan untuk tidak terburu-buru melepaskan rasa tanggung jawab hanya karena sesuatu sudah tidak berada dalam genggaman tangan kita. Memilah sampah adalah langkah sederhana untuk mengakui bahwa apa yang kita gunakan tetap memiliki riwayat dengan hidup kita.
Tidak ada tindakan yang benar-benar berdiri sendiri tanpa dampak. Sampah yang enggan kita pilah dengan sengaja akan menuntut punggung orang lain untuk membungkuk dan memilahnya untuk kita. Sampah yang kita lemparkan begitu saja akan mengalir ke sungai, berlayar ke laut dan pada akhirnya kembali ke meja makan kita melalui air dan makanan yang kita konsumsi. Dunia selalu punya cara untuk mengembalikan apa yang coba kita abaikan.
Pada akhirnya, ukuran kedewasaan sebuah kota tidak diukur dari seberapa megah bangunan-bangunannya, tetapi dari sejauh mana warganya sudi merawat jejak kehidupannya sendiri. Maka yang perlu kita pilah bukan hanya plastik, kertas atau sisa makanan di dapur. Kita juga perlu memilah kembali cara kita memandang dunia. Selama kita masih percaya bahwa apa yang dibuang dari pandangan mata berarti telah lenyap dari kenyataan, maka selama itu pula kita akan terus mengulangi kesalahan yang sama. Baik terhadap alam, terhadap sesama manusia dan juga terhadap masa depan yang sedang kita siapkan. Sebab di dunia yang saling terikat ini, tidak ada yang pernah benar-benar terbuang.
