kabarbursa.com
kabarbursa.com
Opini  

Beru Bakkā: Ruang, Waktu dan Kenangan yang Tertinggal

Beru Bakkā: Ruang, Waktu dan Kenangan yang Tertinggal
(Foto : IST)

Oleh: Muhammad Ilham Darwis

KabarMakassar.com — Ada dua hal yang saya pikirkan ketika mendengar kata “Bakkā”. Pertama, saya membayangkan seorang anak kecil atau remaja dengan permainannya. Kedua, seorang anak kecil atau remaja yang bermain atau melakukan sesuatu yang belum waktunya ia lakukan. Sering kali, kata bakkā disematkan pada hal yang bernuansa negatif, seperti pada poin kedua di atas.

Di lingkungan saya, orang-orang dewasa biasanya menggunakan kalimat “beru pako bakkā” yang dapat diartikan sebagai, “kamu itu belum dewasa, kamu belum besar”. Biasanya, orang yang lebih tua mengatakan ini untuk meledek yang lebih muda darinya.

Terinspirasi dari tema yang diusung, yakni “Bakkā”, saya menambahkan kata “beru” sebagai judul karya ini. Jika dilihat dari kosakata Bugis, bakkā berarti bertumbuh dan berkembang. Jika bakkā berarti bertumbuh, maka beru bakkā dapat dimaknai sebagai sebelum tumbuh.

Fase saat ini bagi saya adalah fase sedang bakkā-bakkānya, atau sedang dalam proses bertumbuh. Fase di mana saya belajar lebih banyak dari siapa pun dan kapan pun yang saya rasa dapat menambah pengetahuan untuk menjadi “manusia”. Sementara itu, fase beru bakkā saya artikan sebagai fase ketika masih kecil, di mana waktu lebih banyak dihabiskan untuk bermain.

Ada berbagai macam mainan dan permainan lokal yang pernah saya mainkan saat kecil. Mainan dan permainan ini menghiasi masa-masa saya menjelang bakkā, atau saat beru bakkā. Bagi saya, mainan dan permainan masa kecil menjadi dasar saya—atau mungkin kita semua—sebelum memasuki tahap bertumbuh dan akhirnya mekar.

Sejak lahir hingga kelas 3 SD, sekitar tahun 1998–2007, saya tinggal di wilayah selatan Makassar, tepatnya di Asrama Mattoangin. Pada tahun 2007, saya pindah ke wilayah timur Makassar, di Tello Baru, Kompleks IDI. Sejak mulai mengenal mainan dan permainan, saya menemukan banyak hal. Misalnya, adanya perbedaan dalam penamaan suatu permainan meskipun cara bermainnya sama. Beberapa permainan juga memiliki lagunya masing-masing, seperti lojo-lojo atau memburu-buru. Lagu sebelum permainan ini ternyata juga berbeda di tiap wilayah Makassar. Di wilayah selatan, cenderung menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan di wilayah timur lebih banyak memakai bahasa Makassar dan Bugis.

Saya mulai dari permainan lokal yang paling sering dimainkan bersama teman-teman. Pertama, permainan tingko-tingko, atau dalam bahasa Indonesia berarti sembunyi-sembunyi. Kedua, lojo-lojo atau memburu-buru. Kedua permainan ini memiliki lagu yang wajib didendangkan sebelum memulai permainan, dan lagunya berbeda antara Asrama Mattoangin dan Tello Baru.

Saat di Asrama Mattoangin, lagu permainan tingko-tingko dan lojo-lojo berbunyi: “Kacang-kacang panjang, siapa yang panjang, dia jadinya” dan “Injak-injak tanah, siapa yang injak dia tidak jadinya”.

Namun, saat di Tello Baru, lagu kedua permainan tersebut sangat berbeda. Untuk tingko-tingko: “Tingko-tingko iyala kupang, kupang-kupang minta digarinci, garinci-garinci pattedong, igelese iburasa ikang pallo”. Sementara untuk lojo-lojo: “Lojo-lojo, lojo pakanre tai masu digalang-galang enteng ris sari bua ballo jappo”.

Hingga saat ini, saya tidak mengetahui arti maupun asal-usul lirik dari lagu-lagu tersebut.

Beralih ke mainan saat saya tinggal di Asrama Mattoangin. Mainan pertama yang membuat saya tercengang adalah Perahu Otok. Saat itu, saya membelinya di depan SD Mattoangin, lalu mencobanya di rumah menggunakan ember berisi air. Pada masa ini pula, saya pertama kali mendengar istilah “musim mainan”.

Musim mainan adalah fenomena ketika banyak anak memainkan satu jenis mainan pada waktu tertentu. Misalnya, musim layangan, di mana semua orang memainkan layang-layang. Beberapa musim mainan yang saya rasakan antara lain: musim Tembak Omega, mobil remote, Tamiya, Beyblade (gasing), yoyo, hingga Digivice.

Kartun juga menghiasi masa kecil saya. Saat itu, banyak kartun ditayangkan di televisi nasional. Hari Sabtu dan Minggu menjadi waktu utama penayangan kartun, sejak pagi hingga siang, di stasiun seperti Indosiar dan RCTI. Dari kartun-kartun tersebut, lahir pula tren mainan, seperti Let’s and Go yang mempopulerkan Tamiya, Crush Gear, Metal Fight Beyblade, Yu-Gi-Oh dengan kartu permainannya, hingga Digimon dengan Digivice. Sebagian dari kartun tersebut juga diadaptasi menjadi permainan di PlayStation.

Dari berbagai mainan yang saya miliki, beberapa sangat melekat secara sentimental dalam ingatan saya. Misalnya, mainan kertas yang sering dimainkan di ruang tengah. Ada pula Tamiya lengkap dengan lintasan relnya. Karena itu, rumah saya sering ramai oleh teman-teman kompleks yang datang untuk bermain atau sekadar menonton.

PlayStation (PS) 1 dan PS2 juga menjadi favorit saya, meskipun yang dibelikan selalu versi lama karena harganya lebih terjangkau. Saya biasanya bermain bersama kakak saya di ruang tengah, dari sepulang sekolah hingga lelah. Beberapa gim favorit kami antara lain Crash Bandicoot, Pepsiman, Winning Eleven, GTA San Andreas, God of War, Basara, dan Nascar Rumble.

Toko mainan juga menjadi bagian penting dari kenangan saya, seperti Toko Bandai, Istana Mainan, Pasar Tello, serta penjual mainan keliling. Sekitar tahun 2009–2012, saya sering mengunjungi tempat-tempat tersebut bersama teman-teman, menggunakan pete-pete (angkutan umum).

Selain itu, saya juga memiliki hobi mengoleksi DVD film. Saya dan teman-teman sering menonton bersama di rumah, terutama film yang baru tayang di bioskop. Karena saat itu kami belum diizinkan ke mal, kami membeli DVD di beberapa tempat seperti Misi Pasaraya, Carrefour, Karebosi Link, dan MTC (Makassar Trade Center). Meski kami sadar DVD tersebut bajakan, tetap ada kekhawatiran jika yang kami beli adalah rekaman ilegal dari dalam bioskop.

Karya ini merupakan kelanjutan tidak langsung, sekaligus kemungkinan bagian dari karya sebelumnya yang saya hadirkan dalam pameran “Kawula Ria” pada Maret 2022.

Dalam pameran tersebut, saya bersama Kampung Buku menghadirkan pameran arsip berupa ruang tamu, berdasarkan ingatan Mama saya saat tinggal bersama Opa.

Kali ini, dalam pameran “Beru Bakkā”, saya bergeser ke ruang tengah. Bagi saya, ruang tengah bukan sekadar tempat berkumpul keluarga, tetapi juga ruang yang paling banyak menyimpan cerita dan tawa, terutama bersama kakak saya, Bum.

Saya dan Bum memiliki selisih usia empat tahun. Bum lahir prematur akibat kecelakaan yang dialami Mama saya. Kemungkinan itu yang menyebabkan kondisi fisik Bum tidak berkembang sempurna.

Kami sering bermain bersama di ruang tengah. Kami memiliki banyak mainan, dan rasanya tidak pernah ketinggalan tren permainan. Teman-teman kami pun sering datang dan bermain hingga lupa waktu.

Hal ini berlangsung sekitar tahun 2008 hingga 2016, dari kelas 5 SD hingga lulus SMA.

Namun, memasuki fase bakkā atau menjelang dewasa, saya mulai jarang bermain, termasuk bersama Bum. Beberapa mainan bahkan berpindah tangan ke sepupu dan keponakan.

Perlahan, saya menyadari alasan Mama saya selalu membelikan kami mainan. Saya teringat pesan Mama, “Kamu harus jaga dan temani Bum terus”.

Kini saya memahami bahwa masa kecil saya yang penuh mainan adalah cara orang tua saya agar Bum tidak merasa sendiri. Mainan menjadi cara untuk membuat saya tetap di rumah, bermain bersama Bum, dan bahkan mengundang teman-teman lain agar kami selalu bersama.

Pameran “Beru Bakkā” dapat dikunjungi dalam rangka pameran bertajuk “Bakkā” yang berlangsung pada 20–23 Agustus 2024 di The Wall by Prolog Ecosystem, Jalan Sumba, Makassar. Pameran ini menampilkan 20 karya dari 20 peserta lokakarya yang berlangsung sejak 5 Agustus 2024, berasal dari tujuh wilayah: Makassar, Nabire, Labuan Bajo, Parepare, Pangkajene dan Kepulauan, Jayapura, serta Lembata.

error: Content is protected !!