KabarMakassar.com — Persoalan distribusi air bersih di wilayah utara Kota Makassar terus menjadi perhatian Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar.
Anggota DPRD Kota Makassar, William Laurin, mengkritik jajaran direksi PDAM yang dinilai masih kerap menyampaikan alasan berulang di tengah keluhan warga yang tak kunjung teratasi.
Keluhan tersebut mencuat dalam agenda reses William Laurin di daerah pemilihan (Dapil) II, krisis air bersih disebut menjadi masalah paling menahun yang terus dikeluhkan masyarakat.
William mengungkapkan, warga di sejumlah kawasan utara bahkan harus menunggu air mengalir pada dini hari dengan debit yang sangat kecil.
“Ini sangat miris. Ada warga yang airnya baru jalan sekitar jam 2 subuh, itu pun harus menunggu lama hanya untuk mengisi beberapa ember. Padahal air bersih adalah hak dasar masyarakat,” kata William kepada awak media di Kantor sementara DPRD kota Makassar, Senin (25/05).
Menurutnya, cakupan layanan air bersih di kawasan utara masih jauh dari harapan. Ia meminta komitmen PDAM untuk segera menuntaskan persoalan tersebut, termasuk memenuhi target perluasan layanan air bersih di Kota Makassar.
“Kita berharap tahun ini persoalan ini bisa tuntas. Minimal cakupan layanan air bersih di Makassar bisa mencapai 80 persen. Ini harus jadi perhatian serius,” ujarnya.
William juga menyoroti alasan yang kerap disampaikan PDAM setiap kali distribusi air terganggu. Saat musim kemarau, persoalan disebut karena debit air baku berkurang. Sementara saat musim hujan, gangguan disebut akibat kerusakan pompa atau jaringan pipa.
“Kalau kemarau alasannya debit air kurang, kalau musim hujan alasannya pompa atau pipa bermasalah. Ini jawaban klasik yang terus diulang. Masyarakat sekarang tidak butuh alasan, yang mereka butuhkan adalah solusi nyata,” tegasnya.
Ia menilai fenomena cuaca ekstrem seperti El Nino seharusnya sudah diantisipasi dalam sistem perencanaan perusahaan. Menurut dia, direksi PDAM dituntut memiliki langkah mitigasi yang matang agar layanan dasar kepada masyarakat tidak terganggu setiap kali menghadapi perubahan musim.
“Kalau bicara El Nino, itu memang fenomena global. Tapi justru di situlah fungsi perencanaan. Direksi harus berpikir jauh ke depan, menyiapkan mitigasi agar masyarakat tidak terus menjadi korban,” tukasnya.















