kabarbursa.com
kabarbursa.com

Tak Lagi di CPI Rukyatul Hilal 17 Februari Gelar di Unismuh

Cuaca Mendukung Dominasi Sulsel, Hilal Diprediksi Sulit Terlihat
Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Ali Yafid, (Dok: KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan menjadwalkan pelaksanaan rukyatul hilal atau pemantauan awal bulan Ramadan 1447 Hijriah pada 17 Februari 2026.

Kegiatan ini akan dipusatkan di Gedung Iqra lantai 18 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar sebagai salah satu titik strategis pemantauan nasional.

Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Ali Yafid, mengatakan Sulawesi Selatan merupakan satu dari 36 titik rukyatul hilal yang ditetapkan pemerintah untuk memberikan data dan pertimbangan dalam sidang isbat penentuan awal Ramadan di Kementerian Agama RI.

“Pemerintah sudah menjadwalkan rukyatul hilal pada 17 Februari dan dilaksanakan di gedung lantai 18 Unismuh. Sulsel menjadi salah satu titik yang memberi masukan untuk sidang isbat di pusat,” ujarnya, Sabtu (14/02).

Ia menjelaskan, pemilihan lokasi di Unismuh bukan tanpa alasan. Kemenag Sulsel menerapkan sistem lokasi bergilir setiap tahun, sekaligus memperkuat silaturahmi dengan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dan lembaga terkait.
Sebelumnya, pemantauan hilal pernah dilakukan di kawasan Center Point of Indonesia (CPI), Takalar, Barru, hingga GTC Makassar.

“Kita tidak mematok satu tempat. Ini bagian dari silaturahmi dengan ormas dan lembaga yang mendukung pelaksanaan rukyat. Dengan dipindahkan ke Muhammadiyah, komunikasi kita juga bisa berjalan baik,” jelasnya.

Pelaksanaan rukyatul hilal nantinya melibatkan berbagai unsur, mulai dari BMKG, Badan Hisab Rukyat, pemerintah daerah, ormas Islam, hingga pengadilan agama yang bertindak sebagai otoritas pengesahan hasil rukyat di daerah sebelum dilaporkan ke pusat.

Hasil pemantauan dari Sulsel akan dikirim ke Jakarta bersama laporan dari titik lain sebagai bahan sidang isbat nasional yang menentukan apakah 1 Ramadan jatuh pada 18 atau 19 Februari 2026.

Ali Yafid menambahkan, penentuan visibilitas hilal mengacu pada kesepakatan negara anggota MABIMS (Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Singapura), yakni ketinggian hilal minimal 3 derajat di atas ufuk.
Namun demikian, faktor cuaca diprediksi menjadi tantangan utama di wilayah Sulawesi Selatan.

“Hambatan kita biasanya cuaca. Belakangan ini hampir setiap hari hujan dan mendung, jadi kemungkinan pengamatan agak sulit. Tapi kita tetap berusaha, mudah-mudahan tanggal 17 cuacanya cerah,” katanya.

error: Content is protected !!