kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Stunting di Sulsel 27,4 Persen, Tenaga Ahli TGUPP Sebut Minim Deteksi

KabarMakassar.com — Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menjadikan stunting sebagai isu nasional yang mulai banyak digalakkan disetiap daerah demi mencapai target stunting nasional di angka 14 persen pada tahun 2024 mendatang. 

Diketahui stunting merupakan kondisi kekurangan gizi yang berlangsung lama dalam perkembangan dan pertumbuhan anak yang bisa dilihat berdasarkan tinggi badan yang dapat dibandingkan dengan usia anak.

Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) Sulawesi Selatan (Sulsel) Bidang Kesehatan,  Djunaidi M Dachlan menyebut angka jumlah stunting di wilayah Sulsel saat ini berada pada angka 27,4 persen.

Jika dilihat, angka jumlah stunting saat ini di Sulsel masih cukup tinggi dari rata-rata jumlah angka nasional yang ditargetkan.

Meski begitu, Tenaga Ahli TGUPP Sulsel Bidang Kesehatan Masyarakat, Djunaidi M Dachlan menyebut angka saat ini merupakan penurunan yang sangat signifikan jika dilihat dari tahun sebelumnya dapat menekan laju pertumbuhan hingga 6 persen.

"Kita pernah menekan di angka 6 persen dalam satu tahun. Kita sebenarnya Sulsel ini sudah turun 33 persen turun lebih cepat," ungkapnya, Kamis (20/10).

Meski begitu, pihaknya tak menampik banyaknya kendala yang dihadapi dalam menekan laju pertumbuhan stunting di Sulsel salah satunya kurangnya deteksi yang dilakukan.

dr. Dedi sapaan akrabnya menjelaskan kurangnya deteksi ini akibat ibu hamil atau balita yang enggan dibawa ke posyandu atau fasilitas kesehatan setempat untuk diperiksa.

Padahal, kata Dedi sangat penting untuk memeriksa kesehatan terutama asupan gizi ibu hamil maupun balita. 

"Sebenarnya kan ibu hamil itu sudah ada jadwalnya cuman ibu hamil kita masih punya kecenderungan, nanti ketika ada keluhan baru mau ke posyandu padahal deteksi itu hanya bisa terjadi justru pada orang yang sehat," sambungnya.

Selain itu, ia juga menyebut sejumlah penyebab tidak langsung terjadinya stunting yakni pola asuh, ketahanan pangan serta sanitasi.

Dedi menjelaskan penting dilakukannya pemenuhan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan pada anak untuk memastikan perkembangan otak. Dimana apabila gizi tidak terpenuhi maka cenderung mengalami penurunan perkembangan yang berujung pada stunting.

"Penyebab stunting adalah kurangnya asupan gizi. 1000 hari pertama merupakan perkembangan otak. Apabila gizi tidak terpenuhi maka cenderung mengalami penurunan perkembangan," ujarnya.

Selanjutnya, pihaknya menyebut edukasi yang dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi stunting saat ini dirasa tidak cukup sehingga perlu dilakukan  pendampingan keluarga.

"Harus didampingi itulah kegagalan kita selama ini. Sekarang harus didampingi dijaga supaya mau datang, pendampingan yang harus dilakukan sekarang karena pola edukasi yang kita lakukan sekarang ini ternyata dia tidak bergerak," pungkasnya.

Djunaidi M Dachlan menegaskan jika persoalan stunting sudah teregulasi dalam kebijakan pokok yakni Peraturan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (Perban) Nomor 12 tahun 2021 Tentang Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Stunting Indonesia Tahun 2021-2024, sehingga perlu dilakukan berbagai upaya dan penanggulangan serta pencegahan dengan mendorong para ibu hamil untuk memeriksakan kesehatan dan mengkonsumsi vitamin serta asupan gizi yang sehat.

error: Content is protected !!