kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Soal Harga Jagung Pakan Naik, Bulog Ingatkan Banyak Komponen Pengaruhi HPP Telur

Soal Harga Jagung Pakan Naik, Bulog Ingatkan Banyak Komponen Pengaruhi HPP Telur
Wakil Pimpinan Wilayah Bulog Sulselbar, Karmila Hasmin Marunta saat Rapat RDP DPRD Sulsel (Dok: Ist).

KabaraMakassar.com — Kenaikan harga jagung pakan menjadi salah satu tekanan yang dihadapi peternak ayam petelur di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Merespon hal itu, Bulog menilai harga jagung bukan satu-satunya faktor yang menentukan tinggi rendahnya harga pokok produksi (HPP) telur.

Hal tersebut disampaikan Wakil Pimpinan Wilayah Bulog Sulselbar, Karmila Hasmin Marunta, dalam Rapat Dengar Pendapat terkait keberlangsungan usaha peternak ayam petelur dan stabilitas pasokan pangan di DPRD Sulsel, Kamis (13/08).

Karmila menjelaskan, Bulog memang mendapat penugasan pemerintah untuk menjaga stabilisasi komoditas jagung. Namun, intervensi terhadap jagung tidak serta-merta dapat menekan seluruh biaya produksi telur.

“Komoditas jagung ini tidak menjadi satu-satunya komponen pembentuk HPP telur,” kata Karmila.

Menurut dia, biaya produksi telur juga dipengaruhi sejumlah komponen lain, mulai dari vitamin, energi listrik, vaksin, transportasi hingga tenaga kerja.
“Sehingga walaupun jagung ini kita jaga harganya, tetapi masih banyak komponen-komponen pembentuk HPP telur,” ujarnya.

Di sisi lain, Bulog memastikan terus melakukan penyerapan jagung untuk menjaga ketersediaan bahan baku sekaligus membantu petani dan peternak.

Untuk 2026, Bulog mendapat target penyerapan jagung sebesar 150.000 ton di wilayah kerja Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Hingga 13 Agustus 2026, realisasinya telah mencapai 63.500 ton atau sekitar 42 persen dari target.

Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan capaian 2025 yang disebut baru mencapai sekitar 17.500 ton.

Karmila mengatakan, Bulog membeli jagung dengan harga Rp5.500 per kilogram untuk kadar air 18–20 persen dengan aflatoksin maksimal 50 ppb. Sementara jagung yang telah dikeringkan hingga kadar air maksimal 14 persen dibeli seharga Rp6.400 per kilogram.

“Memang kami akan terus melakukan penyerapan jagung yang sebanyak-banyaknya sesuai dengan standar kualitas,” katanya.

Selain menyerap produksi, Bulog juga menyalurkan jagung melalui program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP/STHP) berdasarkan penugasan pemerintah.

Total penugasan penyaluran jagung kepada peternak atau asosiasi pada 2026 mencapai 6,136 juta kilogram. Dari jumlah tersebut, realisasi penyaluran hingga saat ini sekitar 1,915 juta kilogram.

Untuk program tersebut, jagung dijual Bulog kepada mitra atau peternak dengan harga Rp5.000 per kilogram di gudang Bulog, dengan harga maksimal di tingkat konsumen Rp5.500 per kilogram.

Karmila menegaskan, Bulog tidak menentukan sendiri penerima program tersebut. Data penerima berasal dari mekanisme pemerintah melalui instansi terkait dan diverifikasi sebelum penyaluran dilakukan.

“Bulog tidak mengeluarkan rekomendasi ataupun menentukan siapa-siapa penerima STHP jagung ini,” tegasnya.

Ia menambahkan, stok jagung Bulog memang dapat membantu menekan gejolak biaya produksi dan inflasi, tetapi dampaknya terhadap harga telur tidak bisa berdiri sendiri.

“Bulog berperan dalam menekan laju inflasi, gejolak biaya produksi dan menjadi salah satu penstabil harganya, walaupun tidak bisa menstabilkan secara keseluruhan,” tukasnya.

Loading