kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Peternak Sulsel Khawatir Harga Jagung Pakan Tembus Rp9.000

Peternak Sulsel Khawatir Harga Jagung Pakan Tembus Rp9.000
Suasana Peternak Ayam Petelur Sulsel di RDP DPRD Sulsel (Dok: KabaraMakassar)

KabarMakassar.com — Peternak ayam petelur di Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai mengkhawatirkan kenaikan harga jagung yang menjadi salah satu bahan utama pakan.

Harga jagung siap pakai yang beredar saat ini dipasarkan telah mencapai Rp6.400-Rp6.500 per kilogram.

Sehingga, Aliansi Peternak Rakyat Sulawesi meminta pemerintah segera mengantisipasi pasokan jagung agar kebutuhan peternak dan industri pakan di Sulsel tidak terganggu akibat pengiriman jagung ke luar daerah.

Hal tersebut disampaikan Basuki Suyuti dalam Rapat Dengar Pendapat terkait keberlangsungan usaha peternak ayam petelur dan stabilitas pasokan pangan di DPRD Sulsel, Kamis (13/08).

Basuki mengingatkan pemerintah agar tidak menunggu harga jagung melonjak seperti yang pernah terjadi pada 2023. Saat itu, harga jagung disebut sempat menembus Rp8.000-Rp9.000 per kilogram.

“Harga jagung hari ini sudah Rp6.400-Rp6.500 yang ready siap pakai. Jadi, perlu persiapan apa yang kita lakukan Oktober, November, Desember, Januari sampai Februari. Jangan sampai kita mengulang 2023, harga jagung menembus Rp8.000 sampai Rp9.000 baru kita melakukan tindakan,” kata Basuki.

Menurutnya, kebutuhan jagung peternak dan pabrik pakan di Sulsel harus menjadi prioritas sebelum komoditas tersebut dikirim ke luar pulau.

“Jangan sampai jagung di Sulsel ini habis terkirim ke luar pulau. Setidaknya jagung Sulawesi ini diperuntukkan untuk peternak dan pabrik pakan yang ada di Sulawesi dulu sebelum dikirim ke luar pulau,” ujarnya.

Kekhawatiran tersebut muncul di tengah meningkatnya biaya produksi peternak. Selain jagung, harga dedak dan pakan juga disebut mengalami kenaikan.

Basuki menyebut harga campuran pakan saat ini rata-rata mencapai Rp7.500 per kilogram. Kondisi tersebut membuat HPP telur di tingkat peternak berada di kisaran Rp43.500-Rp45.000 per rak, sementara harga jual telur di Sulsel hanya sekitar Rp20.000-Rp21.000 per rak menurut perhitungan yang disampaikannya dalam forum.

Karena itu, ia meminta pemerintah bersama Bulog dan Satgas Pangan menyiapkan langkah pengamanan stok jagung sejak sekarang.

“Beberapa pengumpul jagung sudah mulai melakukan pembelian untuk persiapan. Ini harus diantisipasi dari sekarang karena kondisi stok dan persediaan,” katanya.

Basuki juga meminta pemerintah tidak menutup kemungkinan impor apabila pasokan domestik tidak mampu menjaga kestabilan harga.

“Jangan terlalu alergi dengan impor. Apabila impor ini sebenarnya bisa menetralkan jagung, jangan menggunakan data yang keliru dengan menganggap kita surplus jagung,” tukasnya.