KabarMakassar.com — Ubi jalar kerap menjadi pilihan makanan sehat karena kandungan gizinya yang melimpah. Namun, tak sedikit orang mengeluhkan perut terasa penuh gas atau sering kentut setelah mengonsumsinya.
Fenomena ini rupanya memiliki penjelasan ilmiah. Dosen Bidang Gizi Universitas IPB, Annisa Rizkiriani, SGz, MSi, menjelaskan bahwa ubi mengandung karbohidrat kompleks dan serat larut, terutama oligosakarida seperti raffinose dan stakiosa. Zat tersebut tidak dapat dicerna oleh enzim di saluran cerna bagian atas.
“Oligosakarida ini langsung masuk ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri usus. Proses fermentasi inilah yang menghasilkan gas seperti hidrogen, metana, dan karbon dioksida, sehingga memicu rasa kembung atau sering kentut,” terang Annisa dikutip dari laman resmi IPB University, Minggu, (17/08).
Meski menimbulkan efek samping berupa gas, Annisa menegaskan ubi, khususnya ubi jalar (Ipomoea batatas), menyimpan manfaat besar bagi kesehatan. Dalam 100 gram ubi, terkandung sekitar 3 gram serat pangan, vitamin A (beta-karoten pada ubi oranye), vitamin C, kalium, vitamin B6, antioksidan (flavonoid dan fenolik), hingga sedikit protein (1–2 gram).
“Ubi membantu menjaga kesehatan pencernaan karena seratnya tinggi, memperkuat imunitas berkat beta-karoten dan vitamin C, serta bermanfaat untuk penderita hipertensi karena kandungan kalium dapat menurunkan tekanan darah,” jelasnya.
Selain itu, ubi memiliki indeks glikemik sedang hingga rendah sehingga cocok membantu mengontrol kadar gula darah. Kandungan antioksidan dan sifat antiinflamasi alami di dalamnya juga diyakini mampu menurunkan risiko penyakit kronis, termasuk kanker dan jantung.
Annisa menambahkan, konsumsi ubi sangat dianjurkan bagi penderita konstipasi karena seratnya dapat melancarkan buang air besar. Ubi juga baik bagi mereka yang membutuhkan asupan gizi untuk memperkuat daya tahan tubuh.
Namun demikian, tidak semua orang disarankan mengonsumsi ubi dalam jumlah banyak. Annisa mengingatkan agar penderita gangguan ginjal, sindrom iritasi usus, atau mereka yang memiliki kadar gula darah sangat tidak terkendali untuk lebih berhati-hati. Pasalnya, oligosakarida dalam ubi bisa memicu gas berlebih, sementara kandungan oksalat pada jenis ubi tertentu dapat memperburuk batu ginjal.
“Ubi memang sehat, tapi porsinya harus disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing. Jangan sampai karena berlebihan justru memicu masalah kesehatan lain,” pungkas Annisa.














