KabarMakassar.com — Pemilihan Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) serentak di Kota Makassar dinilai memiliki dampak ekonomi yang tidak bisa diabaikan.
Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr. Sutardjo Tui, menyebut momentum demokrasi tingkat akar rumput ini berpotensi menggerakkan ekonomi kerakyatan, khususnya di lingkungan warga.
“Pasti ada dampak ekonomi karena pasti ada perputaran uang seperti makan, transportasi, dan sebagainya,” kata Sutardjo, Jumat (28/11).
Menurutnya, aktivitas dalam setiap tahapan pemilihan secara otomatis menciptakan kebutuhan konsumsi yang akan mendorong perputaran uang di masyarakat. Karena itu, ia menegaskan pentingnya memastikan bahwa kebutuhan konsumsi tersebut berasal dari pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
“Kalau menggunakan konsumsi dari UMKM, itu bisa menambahkan pendapatan juga bagi masyarakat di lingkungan RT/RW,” ujarnya.
Sutardjo menilai pemerintah perlu menangkap peluang ini sebagai momen untuk mendorong pemulihan ekonomi di tingkat lokal. Salah satu usulan yang ia soroti adalah penyediaan ruang bagi pelaku UMKM pada hari pemilihan.
“Paling bagus misalnya saat pemilihan dibuka lapak UMKM,” sarannya.
Menurutnya, pemungutan suara akan menghadirkan konsentrasi warga dalam satu titik, sehingga menjadi kesempatan strategis bagi pelaku UMKM memasarkan produk dan meningkatkan transaksi. Selain itu, ia menilai kegiatan tersebut dapat menumbuhkan budaya ekonomi lokal yang lebih aktif dan produktif.
Lebih jauh, Sutardjo mendorong agar pemilihan RT/RW tidak hanya menjadi ajang demokrasi, tetapi dimanfaatkan pula sebagai ruang sosialisasi dan edukasi bagi pelaku UMKM. Ia menilai hal ini penting agar UMKM semakin memahami strategi pemasaran, pengelolaan usaha, hingga literasi digital.
Momentum ini, kata dia, bukan hanya urusan memilih pemimpin lingkungan, tetapi juga kesempatan memperkuat fondasi ekonomi warga.
Dengan jumlah pemilih yang besar dan antusiasme yang tinggi, Sutardjo menyebut pemilihan RT/RW sebagai ruang yang potensial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan secara nyata dimulai dari lorong, dari lingkungan paling dekat, dan dari pelaku usaha kecil yang menopang roda ekonomi sehari-hari.













