KabarMakassar.com — Musim kemarau mulai memberi tekanan terhadap sektor pertanian di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Sejumlah wilayah yang disebut lumbung padi Sulsel tapi memiliki keterbatasan akses irigasi disebut menjadi kawasan yang paling merasakan dampak dari kemarau.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulsel Fraksi Demokrat, Muhtadin, mengatakan dampak kemarau terjadi di sejumlah kecamatan dari total 12 kecamatan yang menjadi perhatian. Namun, beberapa wilayah dinilai mengalami kondisi lebih berat karena tidak sepenuhnya terjangkau jaringan irigasi.
“Terdampak itu ada beberapa kecamatan dari 12 kecamatan. Memang di Pinrang ada salah satu kecamatan yang jauh dari irigasi,” kata Muhtadin, Kamis (27/08).
Ia menyebut Kecamatan Cempa, Lanrisang, dan Suppa sebagai wilayah yang terdampak. Dari ketiganya, Suppa disebut mengalami dampak cukup serius.
“Yang terdampak itu di Kecamatan Cempaga, Kecamatan Lanrisang, Kecamatan Suppa. Ini yang sangat berdampak juga Kecamatan Suppa,” ujarnya.
Menurut Muhtadin, persoalan ketersediaan air semakin terasa ketika hujan tidak turun. Kondisi tersebut berbeda dengan wilayah yang memiliki jaringan irigasi, meski saat kemarau distribusi air juga terbatas karena harus dibagi.
“Kalau tidak ada hujan memang susah. Beda kalau yang irigasi, tapi biasanya kalau musim kemarau air terbagi,” jelasnya.
Melihat kondisi tersebut, Pinrang perlu mendapatkan perhatian dengan mengantisipasi dampak kemarau terhadap tanaman padi, DPRD Sulsel bersama pemerintah daerah telah mendorong bantuan pompanisasi bagi petani. Usulan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah kabupaten dan provinsi.
“Alhamdulillah kami sudah sampaikan kepada pemerintah kabupaten dan provinsi untuk diberikan bantuan pompanisasi,” katanya.
Muhtadin menyebut bantuan pompa sudah mulai disalurkan di sejumlah lokasi. Pemerintah daerah juga telah melakukan peninjauan untuk memetakan kebutuhan pompanisasi di wilayah terdampak.
Saat ini, tanaman padi di sejumlah lokasi terdampak belum memasuki masa panen, melainkan masih dalam tahap tanam. Kondisi kemarau dikhawatirkan membuat hasil produksi nantinya tidak maksimal.
“Sekarang sementara tanam. Mudah-mudahan bisa dipanen, tapi hasilnya tidak maksimal,” terangnya.
Ia memperkirakan produksi pertanian berpotensi turun signifikan jika kondisi kemarau terus berlangsung. Muhtadin berharap hasil panen petani setidaknya tidak turun hingga di bawah separuh produksi normal.
“Kita sangat berharap hasil pertanian ini tidak di bawah 50 persen,” ujarnya singkat.
Di sisi lain, Muhtadin mengatakan pengawasan di lapangan terus dilakukan. Pihaknya juga meminta informasi dari kelompok tani untuk mengetahui kondisi petani yang masuk kategori terdampak maupun sangat terdampak kemarau.
“Kami melaksanakan pengawasan di dua titik yang disampaikan kepada kami. Kami juga tanya kembali beberapa kelompok tani yang terdampak, baik yang sangat terdampak maupun yang terdampak musim kemarau ini,” tukas Politisi Demokrat itu.













