KabarMakassar.com — Kapal Pinisi merupakan kapal legendaris yang berasal dari Sulawesi Selatan dan sudah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak Desember 2017.
Keberadaan Pinisi mencerminkan kejayaan maritim Nusantara serta keterampilan tinggi masyarakat pesisir dalam membangun kapal layar tradisional.
Terdapat berbagai versi mengenai asal-usul nama Pinisi sendiri. Salah satu versi menyebutkan jika istilah ini berasal dari nama pelabuhan historis di Italia, yakni kota Venesia.
Dikisahkan bahwa pelaut Nusantara pada masa lampau pernah singgah di sana serta mengadopsi jenis layar tertentu yang kemudian disebut sebagai Pinisi.
Versi lain menyebutkan bahwa nama Pinisi sudah digunakan sejak awal abad ke-17 oleh salah satu Raja Tallo untuk menamai perahunya.
Hal ini menunjukkan bahwa istilah tersebut telah lama dikenal serta digunakan dalam tradisi pelayaran kerajaan-kerajaan maritim di Sulawesi Selatan.
Sejumlah kalangan juga mengaitkan kapal Pinisi dengan kisah-kisah dalam Epos La Galigo, sebuah karya sastra kuno Bugis.
Menurut pendapat ini, kapal Pinisi telah digunakan oleh para tokoh dalam epos tersebut sebagai alat transportasi dalam menjelajahi lautan dalam pencarian jodoh dan takdir.
Salah satu versi yang lebih kontemporer yakni berasal dari cerita rakyat setempat. Konon, pernah ada seorang bernama Pinisi yang melintasi Tanjung Bira serta memberikan masukan kepada seorang nahkoda bahwa layar kapalnya perlu diperbaiki.
Masukan tersebut menginspirasi masyarakat setempat agar mengembangkan desain layar yang kemudian dikenal sebagai layar Pinisi.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang memberikan inspirasi tersebut, maka masyarakat Bira menamai layar ciptaan mereka dengan nama Pinisi.
Walau begitu, kisah ini tidak memiliki sumber sejarah yang jelas dan lebih banyak beredar sebagai cerita tutur di kalangan masyarakat.
Pembuatan kapal di wilayah Bontobahari sendiri sudah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat pesisir dan menjadi sumber dari berbagai cerita rakyat yang berkembang turun-temurun.
Keahlian membuat kapal diwariskan dari generasi ke generasi juga menjadi ciri khas daerah tersebut.
Legenda yang paling terkenal tentang dengan awal mula pembuatan perahu di daerah ini bersumber dari Epos La Galigo.
Kisah ini menceritakan tentang Sawerigading, seorang pangeran dari Kerajaan Luwu, yang jatuh cinta kepada saudara kembarnya, We Tenriabeng.
Karena hubungan tersebut melanggar norma adat, maka Sawerigading diusir dan diperintahkan untuk mencari jodoh di negeri asing.
Maka dibuatlah sebuah kapal besar bernama Waka Welenreng untuk membawa Sawerigading berlayar ke negeri Cina, tempat tinggal seorang putri kerajaan yang dikabarkan mempunyai paras serupa dengan We Tenriabeng.
Usai menempuh berbagai rintangan, Sawerigading akhirnya berhasil meminang putri tersebut yang bernama We Cuddai.
Akan tetapi, dalam perjalanan pulang ke Luwu, kapal Waka Welenreng karam dan pecah di perairan Selat Selayar.
Potongan-potongan kapal itu kemudian terdampar di pesisir Lemo-Lemo, Ara, dan Bira. Masyarakat dari ketiga wilayah tersebut mengumpulkan dan juga menyusun kembali bagian-bagian kapal yang ditemukan, dan dari sinilah asal mula pembangunan kapal di daerah itu bermula.
Tiap daerah mengklaim bagian tertentu dari kapal sebagai awal mula keahlian mereka. Masyarakat Lemo-Lemo meyakini bahwa lunas dan rangka kapal yang mereka temukan merupakan dasar teknik pembuatan perahu.
Warga Ara mengklaim menemukan papan lambung yang kemudian mereka pasang ulang sebagai panduan dalam membangun kapal.
Sementara itu, masyarakat Bira percaya jika tiang kapal yang mereka temukan membuat mereka mahir dalam seni pelayaran, sehingga dikenal sebagai pelaut andal hingga kini.
Klasifikasi Kapal Pinisi
Jenis kapal di Nusantara melansir Explore Makassar dapat dibedakan berdasarkan tiga kriteria utama yaitu berdasarkan bentuk layar, bentuk lambung kapal, serta tujuan dan cara penggunaannya.
Dalam hal konstruksi, perahu Nusantara memiliki ciri khas unik, yakni lambung yang disusun terlebih dahulu menggunakan papan-papan yang disambung dengan pasak atau pengikat, kemudian baru dipasang kerangka atau gading-gading.
Berbeda dari kapal layar historis Eropa yang memiliki buritan segi empat, kapal-kapal Nusantara biasanya memiliki buritan yang meruncing.
1. Toop
Kapal Toop sudah mulai dikenal di akhir abad ke-18 dan tercatat dalam arsip kolonial sebagai kapal jarak jauh yang banyak digunakan oleh pelaut dan saudagar di Nusantara.
Ciri khas kapal ini yaitu buritannya yang persegi dan bentuk lambungnya yang menyerupai dengan kapal Eropa.
Pembangunannya mengikuti teknik Eropa, yakni memasang papan pada gading-gading yang ditegakkan di atas lunas. Pada paruh pertama abad ke-19, Toop menjadi kapal yang paling umum di perairan Nusantara.
2. Padewakang
Padewakang atau Paduwakang merupakan perahu historis yang terdokumentasi sejak awal abad ke-18 dalam berbagai naskah lokal dan laporan kolonial.
Kapal tersebut digunakan luas untuk pelayaran dari Malaka hingga Maluku dan menjadi penguasa jalur perdagangan Makassar.
Kapal ini mempunyai satu hingga tiga tiang dan menggunakan layar segi empat memanjang yang disebut Sombala’ Tanja’.
Ukurannya pun bervariasi, dari panjang 8 hingga 18 meter dan kapasitas muat di bawah 50 ton. Menjelang abad ke-20, maka bentuk layar mulai berubah dan memadukan gaya layar barat, hingga akhirnya melahirkan tipe kapal Palari.
3. Palari
Palari mulai menggantikan Padewakang pada awal abad ke-20, seiring dengan peralihan penggunaan layar tradisional Sombala Tanja ke layar bergaya Eropa yang lebih praktis dan mudah dikendalikan.
Menurut pelaut Makassar, seperti Daeng Pale, transisi tersebut didorong oleh efisiensi dan kemudahan dalam pengoperasian kapal layar modern. Palari menjadi bentuk transisi krusial menuju lahirnya kapal Pinisi modern.
4. Pinisi
Istilah Pinisi pertama kali tercatat dalam ensiklopedia Hindia Belanda sebagai jenis perahu berbentuk sekunar dengan satu tiang besar serta satu kecil, berasal dari pantai Jembrana dan dibangun oleh komunitas Bugis di Loloan.
Jenis kapal tersebut dikenali juga di pantai selatan Sulawesi dan Banjarmasin. Pada pertengahan abad ke-19, kapal ini pun mulai sering muncul dalam registrasi kapal kolonial dengan ejaan seperti penisch, pinis, atau pinas.
Kapasitas muatnya berkisar sampai dengan 50 ton, dengan panjang sekitar 17 meter. Salah satu penisch terbesar kala itu dimiliki oleh sosok Soe Hin dari Belitung.
Evolusi Pinisi Modern
Memasuki pertengahan abad ke-20, desain kapal Palari kemudian mengalami perubahan signifikan.
Lambung kapal sudah tidak lagi ditinggikan pada bagian haluan, menghilangkan ciri khas selompong, dan bagian geladak belakang (ambeng) tidak lagi bertingkat seperti sebelumnya.
Desain lambung baru ini lalu disebut jenggolang dan jika dilengkapi dengan tali-temali khas sekunar Sulawesi, maka kapal tersebut mulai disebut sebagai kapal layar Pinisi.
Walau nama ini awalnya belum tersebar luas, istilah Pinisi sendiri mulai dikenal secara nasional pada tahun 1960-an dan baru tercatat di media internasional pada 1986 melalui pemberitaan pelayaran Pinisi Nusantara di koran Singapura.














