kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Krisis Air Global: 2,2 Miliar Terdampak, Kebutuhan Indonesia Naik 31 Persen pada 2045

Krisis Air Global: 2,2 Miliar Terdampak, Kebutuhan Indonesia Naik 31 Persen pada 2045
Ilustrasi Krisis Air (Dok: Ist).

KabarMakassar.com — Ancaman krisis air bersih semakin nyata di berbagai belahan dunia. Pertumbuhan penduduk, perubahan tata guna lahan, dan dampak perubahan iklim membuat kebutuhan air melonjak drastis.

Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB, Retno Lestari Priansari Marsudi, mengingatkan bahwa angka-angka terbaru dari PBB menunjukkan kondisi yang memprihatinkan.

Sedikitnya 2,2 miliar orang atau 1 dari 4 penduduk dunia tidak memiliki akses ke sumber air yang aman. Lebih parah lagi, 3,5 miliar orang atau 4 dari 10 penduduk dunia belum mendapatkan sanitasi yang layak. Kondisi ini menjadikan air sebagai isu global yang tak bisa lagi diabaikan.

Dampak ekonomi dari krisis ini juga tidak kecil. Setiap tahun, kerugian akibat bencana terkait air mencapai 550 miliar dolar AS, sementara 95 persen kerusakan infrastruktur dunia dipicu oleh banjir, kekeringan, maupun pencemaran air. Retno menegaskan, “Kita menghadapi tiga tantangan besar: too much (banjir), too little (kekeringan), dan too polluted (pencemaran).” ujarnya, dilansir dari laman UGM Universitas, Minggu (17/08).

Indonesia sendiri tidak lepas dari ancaman. Berdasarkan proyeksi, kebutuhan air nasional akan meningkat hingga 31 persen pada 2045. Jika tidak diantisipasi, kekurangan pasokan air berisiko menghambat pencapaian visi Indonesia Emas 2045.

Untuk menghadapinya, Retno menekankan dua langkah strategis. Pertama, inovasi teknologi air, mulai dari efisiensi penggunaan di rumah tangga hingga penerapan sistem modern di sektor pertanian dan industri.

Kedua, peningkatan sumber daya manusia di bidang air. Saat ini, 50 persen tenaga ahli air dunia sudah mendekati masa pensiun, padahal kebutuhan terus meningkat.

“Peran universitas dan lembaga pendidikan sangat krusial untuk mencetak ahli baru serta melahirkan inovasi. Air bukan hanya persoalan teknis, tapi menyangkut keberlangsungan hidup umat manusia,” tegasnya.

Dengan proyeksi krisis yang menyangkut miliaran orang, langkah konkret dari sisi teknologi, regulasi, dan SDM menjadi kebutuhan mendesak agar dunia tidak terseret lebih jauh ke dalam darurat air global.

error: Content is protected !!