KabarMakassar.com — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di berbagai wilayah Sulawesi Selatan tidak hanya menyebabkan kerusakan vegetasi, tetapi juga menimbulkan dampak ekologis yang signifikan.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan bahwa selain memperburuk kualitas lingkungan, kebakaran juga merusak struktur tanah dan meningkatkan emisi karbon ke atmosfer.
Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Hubungan Antar Lembaga, Fahrizal berujar, kebakaran lahan, meski mayoritas terjadi di luar kawasan hutan, tetap memberi kontribusi nyata terhadap krisis iklim.
Proses pembakaran biomassa seperti jerami dan sisa tanaman menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar.
“Dengan adanya kebakaran itu pertama peningkatan emisi karbon. Dengan adanya peningkatan emisi karbon tentu dampak keseluruhannya nanti adalah berpengaruh kepada perubahan iklim,” ujarnya, Jumat (11/07).
Tak hanya berdampak pada iklim global, kata dia, kebakaran juga memicu kerusakan mikroekosistem di lahan pertanian.
Salah satu akibat langsung adalah matinya organisme tanah seperti cacing yang berperan penting dalam menjaga kesuburan tanah.
“Dampak skala mikronya adalah kalau itu dibakar, tentu lahan pertanian ini akan terganggu karena di bagian tanahnya itu ada hewan-hewan seperti cacing atau apa. Ini pasti akan mati padahal cacing juga fungsinya adalah untuk menggemburkan atau menyuburkan tanah,” lanjut Fahrizal.
Fahrizal menyebut, kerusakan mikroorganisme ini dalam jangka panjang dapat menurunkan produktivitas lahan pertanian.
Tanah menjadi keras, kurang menyerap air, dan kehilangan struktur alaminya untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Meskipun karhutla di Sulsel didominasi lahan non-hutan, dampaknya tetap dirasakan luas. Data KLHK menyebutkan bahwa dari total 474,91 hektar lahan yang terbakar sepanjang Januari hingga awal Juli 2025, sebanyak 443,34 hektar atau 93,56 persen terjadi di Areal Penggunaan Lain (APL).
Sebagian besar dari lahan yang terbakar merupakan lahan pertanian dan perkebunan rakyat, yang pembersihannya dilakukan dengan cara dibakar. Aktivitas ini disebut menjadi salah satu penyebab utama kerusakan tanah dan pelepasan emisi.
Fahrizal menyampaikan bahwa edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah kebakaran akibat pembakaran lahan. Dia menekankan pentingnya mendorong pemanfaatan limbah pertanian secara produktif tanpa perlu dibakar.
“Ini yang mungkin yang disampaikan oleh Pak Gubernur bahwa perlu edukasi kepada masyarakat bahwa jerami-jerami itu tidak perlu dibakar. Bisa dimanfaatkan menjadi pakan ternak, diubah menjadi silase,” pungkas Fahrizal.













