KabarMakassar.com — Pemerintah Kabupaten Luwu Timur terus mendorong penerapan budaya Reduce, Reuse, Recycle (3R) di lingkungan sekolah sebagai upaya membangun kesadaran pengelolaan sampah sejak usia dini. Edukasi tersebut diharapkan menjadi langkah konkret dalam menciptakan sekolah yang bersih sekaligus mengurangi timbulan sampah.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan edukasi lingkungan bertajuk Generasi Peduli Lingkungan Wujudkan Sekolah Bersih dan Berbudaya 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Luwu Timur bekerja sama dengan Save the Children (STC) dalam Program Healthier Smiles, Rabu (24/6).
Pemerintah daerah menilai persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui pengangkutan dan pembuangan akhir, tetapi harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat, termasuk di lingkungan pendidikan melalui pembiasaan memilah, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Luwu Timur, Aini Endis Anrika, mengatakan sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik yang peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.
“Budaya 3R harus menjadi kebiasaan yang ditanamkan sejak usia sekolah. Melalui kegiatan ini, kita berharap lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.
Menurut Aini, persoalan sampah merupakan tantangan bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Karena itu, edukasi mengenai pengurangan sampah, pemanfaatan kembali barang yang masih layak pakai, serta daur ulang perlu terus diperkuat, terutama di lingkungan sekolah.
Save the Children juga mendorong sekolah-sekolah di Luwu Timur mulai menerapkan sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur melalui pemilahan sampah dan pembentukan bank sampah sebagai bagian dari pendidikan lingkungan.
District Coordinator Save the Children, Rina Zulwiyati, berharap kegiatan tersebut menjadi langkah awal bagi sekolah untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Melalui webinar ini, kami berharap sekolah-sekolah di Luwu Timur dapat mengimplementasikan budaya 3R dengan mulai memilah sampah-sampah yang ada di sekolah serta membentuk bank sampah sekolah sebagai sarana edukasi sekaligus pengelolaan sampah yang bernilai,” ujar Rina.
Ia menilai keterlibatan aktif sekolah dalam pengelolaan sampah tidak hanya menciptakan lingkungan belajar yang bersih dan sehat, tetapi juga membangun karakter peduli lingkungan pada peserta didik sejak dini.
Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, para peserta dibekali pemahaman mengenai pentingnya penerapan prinsip 3R dalam kehidupan sehari-hari sebagai salah satu solusi untuk mengurangi volume sampah sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Kegiatan ini diikuti perwakilan sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, sekolah luar biasa, organisasi perangkat daerah, Kementerian Agama Luwu Timur, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), serta tim pelaksana dari Save the Children dan Celosia sebagai bagian dari kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat pendidikan lingkungan di Kabupaten Luwu Timur.













